Sisi Gelap Surabaya: Realitas Tersembunyi di Balik Kota Pahlawan
Surabaya, dikenal sebagai Kota Pahlawan dengan sejarah heroik dan perkembangan ekonomi pesat, sering menjadi ikon kemajuan Indonesia timur. Gedung-gedung modern, pusat perbelanjaan ramai, dan industri yang berkembang membuatnya tampak megah. Namun, ada sisi gelap Surabaya yang jarang diekspos: masalah lingkungan kronis, kesenjangan sosial, dan tantangan urban yang terus membayangi hingga akhir 2025. Artikel ini mengulas realitas tersebut secara jujur, berdasarkan kondisi terkini.


Kemacetan Parah: Momok Harian Penduduk
Sisi gelap Surabaya yang paling dirasakan warga adalah kemacetan lalu lintas yang ekstrem. Dengan populasi lebih dari 3 juta jiwa dan ledakan kendaraan pribadi, jalan-jalan protokol seperti Ahmad Yani atau area industri sering lumpuh total, terutama jam sibuk. Surabaya pernah masuk daftar kota termacet di dunia, dan hingga 2025, masalah ini belum sepenuhnya teratasi meski ada upaya transportasi publik.


Kemacetan ini tidak hanya membuang waktu, tapi juga memperburuk polusi dan stres. Industri di kawasan seperti Rungkut menambah volume truk, sementara infrastruktur jalan tertinggal dari urbanisasi cepat.
Banjir dan Rob: Ancaman yang Berulang
Banjir menjadi salah satu sisi gelap Surabaya yang paling meresahkan. Wilayah seperti Benowo, Rungkut, dan pesisir utara sering terendam saat musim hujan atau rob air laut. Penyebabnya multifaktor: sedimentasi sungai, alih fungsi lahan resapan, pembangunan liar, dan penurunan muka tanah akibat eksploitasi air tanah.
Meski pemerintah melakukan normalisasi sungai dan box culvert, banjir tetap jadi isu tahunan hingga 2025. Dampaknya luas: kerugian materi, gangguan aktivitas, dan risiko kesehatan dari air tercemar.

Pemerintah Kota Surabaya
Polusi Udara dan Pencemaran Sungai
Polusi udara di Surabaya sering masuk 10 besar kota paling berpolusi di Indonesia. Asap kendaraan, emisi pabrik, dan aktivitas industri menyebabkan kualitas udara buruk, terutama di area padat. Mikroplastik bahkan tercemar di air hujan, mengancam kesehatan warga.
Sungai-sungai seperti Kalimas atau Wonokusumo dipenuhi sampah dan limbah rumah tangga serta industri. Pencemaran tinja dan deterjen membuat air tidak layak, memperburuk ekosistem dan risiko penyakit.



Kawasan Kumuh, Kemiskinan, dan Kriminalitas
Di balik mall mewah, masih ada permukiman kumuh dengan sanitasi buruk dan akses terbatas. Meski angka kemiskinan melandai, ketimpangan tetap ada, terutama di Surabaya Utara yang sering distigma sebagai area rawan kriminalitas. Tawuran, pencurian, dan masalah sosial lain jadi isu, diperburuk pengangguran dan urbanisasi.
Harapan di Tengah Tantangan
Meski penuh sisi gelap Surabaya, ada progres seperti pengelolaan sampah inovatif, revitalisasi kawasan, dan program pemberdayaan. Kolaborasi pemerintah, masyarakat, dan swasta krusial untuk solusi berkelanjutan, seperti perluasan ruang hijau dan transportasi massal.
Kesimpulan: Surabaya yang Lebih Inklusif
Sisi gelap Surabaya ini bukan untuk merendahkan, melainkan pengingat bahwa kemajuan harus merata. Kota Pahlawan punya potensi besar, tapi tantangan seperti banjir, macet, polusi, dan kesenjangan perlu diatasi bersama. Dengan komitmen kuat, Surabaya bisa jadi kota layak huni yang benar-benar heroik bagi semua warganya.
