Info terkini Tentang Permainan Online

Sejarah berdirinya Kerajaan Sriwijaya

Asal Nama “Sriwijaya

Nama Sriwijaya berasal dari bahasa Sanskerta:

  • “Sri” = kemakmuran, kejayaan
  • “Wijaya” = kemenangan
    Jadi, Sriwijaya berarti “kemenangan yang gemilang” atau “kemenangan yang membawa kemakmuran”.

Nama ini pertama kali ditemukan dalam prasasti Kedukan Bukit (683 M) di Palembang, yang menyebutkan tentang kemenangan suatu ekspedisi militer yang dipimpin oleh seorang tokoh bernama Dapunta Hyang.


Waktu dan Tempat Berdiri

  • Didirikan sekitar abad ke-7 Masehi, tepatnya tahun 682–683 M.
  • Pusat pemerintahan: Palembang, Sumatra Selatan (berdasarkan temuan arkeologis dan catatan sejarawan Tiongkok).
  • Wilayahnya meliputi Sumatra bagian selatan, Jawa bagian barat, Semenanjung Malaya, dan pulau-pulau strategis di Selat Malaka dan Selat Sunda.

Tokoh Pendiri: Dapunta Hyang Sri Jayanasa

Menurut Prasasti Kedukan Bukit (683 M), kerajaan ini didirikan oleh seorang pemimpin bernama Dapunta Hyang Sri Jayanasa. Ia memimpin ekspedisi suci (siddhayatra) dari Minanga Tamwan (diperkirakan wilayah hulu Sungai Musi atau pedalaman Sumatra) menuju Sungai Musi, lalu mendirikan pusat kerajaan di Palembang.

Ekspedisi ini bukan hanya militer, tapi juga spiritual dan politis — untuk menyatukan wilayah dan menyebarkan agama Buddha.


Latar Belakang Berdirinya Sriwijaya

  1. Strategi Geografis:
    Palembang terletak di Selat Malaka — jalur perdagangan laut paling penting antara Tiongkok, India, Timur Tengah, dan Eropa. Siapa yang menguasai Selat Malaka, menguasai perdagangan rempah, emas, dan barang mewah.
  2. Kekosongan Kekuasaan:
    Setelah runtuhnya Kerajaan Funan (di Kamboja) pada abad ke-6, tidak ada kekuatan maritim yang dominan di Asia Tenggara. Sriwijaya mengisi kekosongan itu.
  3. Dukungan Agama:
    Sriwijaya menjadi pusat penyebaran agama Buddha aliran Mahayana, yang dianut oleh elite kerajaan. Ini memperkuat legitimasi politik dan menarik ulama serta pedagang dari luar.

Bukti Sejarah Keberadaan Sriwijaya

  1. Prasasti dalam aksara Pallawa dan bahasa Melayu Kuno:
    • Prasasti Kedukan Bukit (683 M)
    • Prasasti Talang Tuwo (684 M) – menyebut pembangunan taman suci untuk kesejahtteraan rakyat
    • Prasasti Kota Kapur (686 M) – di Pulau Bangka, menunjukkan ekspansi ke barat
  2. Catatan Tiongkok:
    • Biksu I-Tsing (Yijing), yang belajar di Sriwijaya tahun 671–685 M, menulis bahwa Sriwijaya adalah pusat studi Buddha terkemuka di Asia, dengan ribuan biksu dan perpustakaan besar.
    • Ia menyebut Sriwijaya sebagai “Shi-li-fo-shi”, nama Tiongkok untuk Sriwijaya.
  3. Temuan Arkeologis:
    • Candi-candi Buddha di Palembang dan Muara Jambi (Jambi)
    • Arca Buddha, genta, dan perhiasan emas yang menunjukkan kemakmuran dan pengaruh India

Masa Kejayaan (Abad ke-7–13)

  • Sriwijaya menguasai Selat Malaka dan Selat Sunda, memungut cukai dari kapal dagang.
  • Menjadi pusat perdagangan dan pendidikan Buddha internasional.
  • Mempunyai armada laut kuat untuk melindungi jalur dagang dan menaklukkan wilayah (seperti Jawa Barat, Semenanjung Malaya, dan Jawa Tengah pada masa awal).
  • Menjalin hubungan diplomatik dengan Tiongkok, India, dan Arab.

Penyebab Kemunduran

  1. Serangan Kerajaan Chola (1025 M):
    Armada dari Kerajaan Chola (India Selatan) menyerang Palembang dan pelabuhan Sriwijaya, melemahkan kekuasaan maritimnya.
  2. Munculnya Pesaing:
    • Kerajaan Dharmasraya di Jambi (abad ke-12)
    • Kerajaan Singhasari dan Majapahit di Jawa (abad ke-13–15) yang mulai menguasai perdagangan Nusantara.
  3. Perubahan Jalur Perdagangan:
    Pedagang mulai menghindari Selat Malaka karena tidak aman, beralih ke jalur selatan (melalui Selat Sunda).
  4. Pusat Pemerintahan Pindah:
    Pada abad ke-11–12, pusat Sriwijaya berpindah ke Jambi, lalu akhirnya menghilang dari catatan sejarah sekitar abad ke-14.

Warisan Sriwijaya

  • Menjadi cikal bakal identitas Melayu dan bahasa Melayu sebagai lingua franca Nusantara.
  • Menunjukkan bahwa Sumatra pernah menjadi pusat peradaban maritim dunia.
  • Nama “Sriwijaya” kini diabadikan sebagai nama universitas (Universitas Sriwijaya), maskapai penerbangan (Sriwijaya Air), dan simbol kebanggaan Sumatra Selatan.

“Sriwijaya bukan hanya kerajaan — ia adalah jembatan peradaban antara Asia, India, dan dunia Islam.”


Fakta Penting

  • Agama resmi: Buddha Mahayana
  • Bahasa administrasi: Melayu Kuno
  • Sistem pemerintahan: Monarki dengan raja sebagai pelindung agama dan perdagangan
  • Lambang kejayaan: Armada laut dan kuil-kuil Buddha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *