Zaman Kuno: Asal Usul dan Pengaruh Asing (±10.000 SM – 794 M)
- Zaman Jōmon (±10.000–300 SM): Masyarakat pemburu-peramu yang membuat gerabah berhias tali (jōmon = “tali”).
- Zaman Yayoi (300 SM–300 M): Masuknya teknologi bercocok tanam padi dari daratan Asia, logam, dan sistem sosial yang lebih kompleks. Masyarakat mulai membentuk suku-suku kecil.
- Zaman Kofun (300–538 M): Munculnya klan penguasa, terutama klan Yamato, yang menjadi cikal bakal Kekaisaran Jepang. Kuburan besar berbentuk gundukan (kofun) dibangun untuk elit.
- Pengaruh Tiongkok & Korea: Pada abad ke-5–6, Jepang menerima aksara Tiongkok, Buddha, dan sistem pemerintahan Konfusianisme melalui Korea.
Zaman Klasik: Kekaisaran dan Budaya Asli (794–1185)
- 794: Ibu kota dipindahkan ke Heian-kyō (kini Kyoto) → Zaman Heian dimulai.
- Kekaisaran Jepang mencapai puncak kejayaan budaya: sastra klasik seperti “The Tale of Genji” (oleh Murasaki Shikibu, novel pertama di dunia), puisi, kaligrafi, dan seni halus.
- Namun, kekuasaan politik perlahan beralih dari kaisar ke klan bangsawan Fujiwara, lalu ke keluarga militer (samurai).
Zaman Feodal: Samurai, Shogun, dan Perang Saudara (1185–1603)
- 1185: Minamoto no Yoritomo mengalahkan klan Taira dan mendirikan Keshogunan Kamakura → shogun (jenderal tertinggi) menjadi penguasa de facto, sementara kaisar hanya simbol.
- 1274 & 1281: Jepang berhasil mengusir invasi Mongol (dipimpin Kublai Khan) — badai laut (“kamikaze” atau angin ilahi) membantu pertahanan.
- 1336–1573: Zaman Ashikaga – ibu kota pindah ke Kyoto, tapi kekuasaan shogun lemah → Jepang terpecah dalam Zaman Negara Perang (Sengoku Jidai), di mana ratusan daimyō (penguasa feodal) saling berperang.
Penyatuan Kembali (1573–1603)
Tiga panglima hebat menyatukan Jepang:
- Oda Nobunaga – mulai proses penyatuan dengan kekerasan dan senjata api (diperkenalkan Portugis, 1543).
- Toyotomi Hideyoshi – menyelesaikan penyatuan, melarang samurai non-nobilitas membawa senjata.
- Tokugawa Ieyasu – menang di Pertempuran Sekigahara (1600), lalu mendirikan Keshogunan Tokugawa (1603).
Zaman Edo: Damai, Tertutup, dan Stabil (1603–1868)
- Ibu kota: Edo (kini Tokyo).
- Jepang menerapkan kebijakan sakoku (“negeri tertutup”): hanya Belanda dan Tiongkok yang boleh berdagang (di pelabuhan kecil Nagasaki).
- 250 tahun damai: tanpa perang besar, populasi tumbuh, budaya urban berkembang (teater kabuki, ukiyo-e, sastra rakyat).
- Kelas sosial kaku: samurai → petani → pengrajin → pedagang.
- Namun, di akhir era, tekanan dari Barat dan ketidakpuasan internal mulai menggerogoti sistem feodal.
Restorasi Meiji: Modernisasi Total (1868–1912)
- 1853: Kapal perang AS di bawah Commodore Perry memaksa Jepang membuka pelabuhan → kejutan budaya dan krisis politik.
- 1868: Kaisar Meiji (Mutsuhito) “dikembalikan” ke tampuk kekuasaan → Restorasi Meiji dimulai.
- Shogunat Tokugawa dihapus. Jepang meniru Barat dengan cepat:
- Konstitusi (1889), parlemen (Diet), tentara modern.
- Pabrik, rel kereta, sekolah umum, dan sistem hukum Barat.
- Dalam 40 tahun, Jepang berubah dari feodal menjadi kekuatan industri dan militer.
Ekspansi Imperial
- 1894–1895: Menang atas Tiongkok dalam Perang Tiongkok-Jepang Pertama → dapat Taiwan.
- 1904–1905: Mengalahkan Rusia dalam Perang Rusia-Jepang → pertama kalinya negara Asia modern mengalahkan kekuatan Eropa.
- 1910: Menganeksasi Korea.
Era Militerisme dan Perang Dunia (1912–1945)
- Setelah kematian Kaisar Meiji (1912), pengaruh militer semakin kuat.
- 1931: Menduduki Manchuria (Tiongkok utara).
- 1937: Invasi penuh ke Tiongkok → Perang Tiongkok-Jepang Kedua (bagian PD II di Asia).
- 1941: Menyerang Pearl Harbor → masuk PD II melawan Sekutu.
- 1945: AS menjatuhkan bom atom di Hiroshima (6 Agustus) dan Nagasaki (9 Agustus).
- 15 Agustus 1945: Kaisar Hirohito mengumumkan menyerah tanpa syarat – pertama kalinya kaisar berbicara langsung ke rakyat (“Pidato Gyokuon-hōsō”).
Jepang Pascaperang: Ekonomi Raksasa, Demokrasi Damai (1945–sekarang)
- 1945–1952: Diduduki oleh AS di bawah Jenderal Douglas MacArthur.
- Konstitusi baru (1947): pasal 9 melarang Jepang memiliki angkatan perang ofensif.
- Monarki dipertahankan, tapi kaisar jadi simbol (bukan dewa).
- Reformasi tanah, pendidikan, dan demokratisasi.
- 1950–1980-an: “Keajaiban Ekonomi Jepang” – pertumbuhan eksplosif lewat industri otomotif (Toyota, Honda), elektronik (Sony, Panasonic), dan teknologi.
- 1990-an–2000-an: “Dekade Hilang” akibat gelembung ekonomi meletus → stagnasi, utang, dan populasi menua.
- 2011: Gempa besar + tsunami di Tōhoku → bencana nuklir Fukushima.
- 2020-an: Jepang fokus pada inovasi (robotika, AI), pariwisata, dan peran global sebagai mitra AS di Indo-Pasifik.
Fakta Penting
- Ibu kota: Tokyo
- Kepala negara: Kaisar (simbolik); Kepala pemerintahan: Perdana Menteri
- Sistem pemerintahan: Monarki konstitusional parlementer
- Agama utama: Shinto (asli Jepang) dan Buddha
- Hari Nasional: 23 Februari (ulang tahun Kaisar Naruhito)
