Info terkini Tentang Permainan Online

Zaman Kuno: Jalur Perdagangan dan Kerajaan Maritim (±2000 SM – 1400 M)

Wilayah Malaysia modern, terletak di Selat Malaka — jalur perdagangan strategis antara Tiongkok dan India — telah dihuni sejak ribuan tahun lalu oleh suku asli seperti Orang Asli (di Semenanjung) dan Dayak (di Kalimantan).

  • Abad ke-1–7 M: Muncul kerajaan Hindu-Buddha kecil seperti Langkasuka dan Gangga Negara, dipengaruhi oleh peradaban India.
  • Abad ke-7–13: Kerajaan Sriwijaya (berpusat di Sumatra) menguasai Selat Malaka dan menjadikan wilayah ini pusat perdagangan dan penyebaran agama Buddha.
  • Abad ke-13–15: Kerajaan Islam Pasai dan Malaka mulai menyebar. Agama Islam masuk melalui pedagang Arab, Gujarat, dan Tiongkok Muslim.

Kesultanan Malaka: Puncak Kejayaan (1400–1511)

  • 1400: Parameswara (pangeran dari Palembang) mendirikan Kesultanan Malaka setelah melarikan diri dari Majapahit.
  • Malaka tumbuh pesat menjadi pusat perdagangan maritim terpenting di Asia Tenggara, menghubungkan Tiongkok, India, Arab, dan Eropa.
  • Islam menjadi agama resmi, sistem pemerintahan dan hukum (Hukum Kanun Malaka) menjadi model bagi kerajaan Melayu lain.
  • Bahasa Melayu menjadi lingua franca (bahasa pengantar) di Nusantara.
  • 1511: Malaka jatuh ke tangan Portugis setelah penyerbangan dipimpin Afonso de Albuquerque.

Era Kolonial: Perebutan Kuasa (1511–1945)

Setelah jatuhnya Malaka, kekuasaan di Selat Malaka berebutan antara:

  • Portugis (1511–1641): Membangun benteng A Famosa, fokus pada perdagangan rempah, tapi tidak memperluas wilayah.
  • Belanda (1641–1824): Bersekutu dengan Johor, merebut Malaka dari Portugis. Fokus pada monopoli perdagangan, tidak tertarik pada administrasi luas.
  • Inggris (1786–1957): Masuk melalui Francis Light yang mendirikan pangkalan di Pulau Pinang (1786), lalu Singapura (1819) oleh Stamford Raffles, dan Melaka (1824) lewat Perjanjian Anglo-Belanda.

Inggris menyatukan wilayah Semenanjung menjadi Negeri-Negeri Selat (Penang, Melaka, Singapura), lalu membentuk Federasi Negeri Melayu (1895) dan Negeri Melayu Bersekutu (1896), sementara Sabah dan Sarawak dikuasai sebagai protektorat (oleh British North Borneo Company dan keluarga Brooke — “Rajah Putih”).


Pendudukan Jepang dan Jalan ke Kemerdekaan (1942–1957)

  • 1942–1945: Selama Perang Dunia II, Jepang menduduki Malaya. Singapura jatuh dalam “penyerahan terbesar dalam sejarah Inggris” (1942).
  • Pendudukan Jepang memicu nasionalisme Melayu dan perlawanan (termasuk pasukan Force 136 dan gerilyawan komunis).
  • Setelah perang, Inggris kembali, tapi rakyat menolak rencana Malayan Union (1946) yang mengurangi kuasa sultan Melayu.
  • 1948: Diganti Federasi Malaya, yang menghormati hak istimewa Melayu.
  • 1948–1960: Darurat Malaya — perang melawan pemberontakan komunis (didukung etnis Tionghoa).
  • 31 Agustus 1957: Federasi Malaya merdeka di bawah kepemimpinan Tunku Abdul Rahman, Perdana Menteri pertama.

Kelahiran Malaysia (1963–1965)

  • 16 September 1963: Federasi Malaya bergabung dengan Singapura, Sabah, dan Sarawak membentuk Malaysia.
  • Tujuan: memperkuat ekonomi, menjaga keseimbangan etnis, dan menahan pengaruh komunis.
  • 1965: Singapura dikeluarkan dari Malaysia karena ketegangan rasial dan politik antara pemerintah Kuala Lumpur dan Lee Kuan Yew.

Malaysia Modern: Stabilitas, Pembangunan, dan Tantangan (1965–sekarang)

  • 1969: Kerusuhan rasial 13 Mei antara Melayu dan Tionghoa → pemerintah meluncurkan Dasar Ekonomi Baru (DEB) untuk mengurangi ketimpangan ekonomi dan memperkuat kedudukan ekonomi bumiputra.
  • 1980–2003: Era kepemimpinan Mahathir Mohamad — transformasi ekonomi besar-besaran: Kuala Lumpur jadi kota modern, infrastruktur dibangun (Menara KL, KLIA), industri diperkuat.
  • 2018: Untuk pertama kalinya sejak 1957, koalisi oposisi Pakatan Harapan menang pemilu, mengakhiri 61 tahun kekuasaan Barisan Nasional.
  • 2020–sekarang: Perubahan pemerintahan cepat, isu rasial, ekonomi pasca-pandemi, dan upaya menjaga keseimbangan antara Melayu-Muslim dan minoritas Tionghoa-India.

Fakta Penting

  • Ibu kota: Kuala Lumpur (administrasi: Putrajaya)
  • Sistem pemerintahan: Monarki konstitusional federal — unik karena raja (Yang di-Pertuan Agong) dipilih bergilir setiap 5 tahun dari 9 sultan Melayu.
  • Bahasa nasional: Bahasa Melayu
  • Agama resmi: Islam (tapi kebebasan beragama dijamin)
  • Hari Kemerdekaan: 31 Agustus 1957 (Hari Merdeka); 16 September 1963 (Hari Malaysia)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *