Olympique de Marseill
⚪🔵 Profil Singkat Olympique de Marseille
- Nama lengkap: Olympique de Marseille
- Didirikan: 31 Agustus 1899
- Kota: Marseille, Provence-Alpes-Côte d’Azur, Prancis
- Stadion: Stade Vélodrome (kapasitas: 67.394)
- Warna seragam: Putih dan Biru
- Julukan:
- Les Phocéens (Bangsa Phocaea — pendiri kota Marseille kuno dari Yunani)
- OM
- Les Olympiens
- Pemilik: Frank McCourt (mantan pemilik LA Dodgers), sejak 2016
🏆 Prestasi: Raksasa Prancis dengan Satu Mahkota Eropa
Marseille adalah salah satu klub paling sukses dan paling kontroversial dalam sejarah Prancis.
Domestik (Prancis)
- Juara Ligue 1: 9 kali
- 1937, 1949, 1971, 1972, 1989, 1990, 1991, 1992, 2000
→ Rekor 4 gelar berturut-turut (1989–1992) — terbanyak dalam sejarah Prancis
- 1937, 1949, 1971, 1972, 1989, 1990, 1991, 1992, 2000
- Juara Coupe de France: 10 kali
- Juara Trophée des Champions: 3 kali
Eropa & Dunia
- Liga Champions UEFA: Juara 1993
→ Mengalahkan AC Milan 1–0 di final (gol Basile Boli)
→ Satu-satunya klub Prancis yang pernah juara Liga Champions! - Piala UEFA: Runner-up 1999, 2004
- Piala Super UEFA: Juara 1993
- Piala Interkontinental: Runner-up 1993
💡 Fakta Bersejarah:
Gelar Liga Champions 1993 diperoleh di tengah skandal pengaturan skor domestik — membuatnya jadi kemenangan paling kontroversial namun sah dalam sejarah Eropa.
🏛️ Asal Nama & Identitas: Warisan Yunani di Tanah Prancis
- Marseille didirikan oleh pedagang Yunani dari Phocaea pada 600 SM — klub menghormati warisan ini dengan julukan “Les Phocéens”.
- Warna putih-biru melambangkan langit Mediterania dan gelombang laut.
- Klub ini adalah jantung identitas Marseille — kota pelabuhan paling beragam di Prancis.
💬 “Marseille bukan cuma kota. Ini adalah perasaan. Dan OM adalah jantungnya.”
🌟 Era Bernard Tapie: Emas dan Skandal (1986–1994)
Di bawah presiden kontroversial Bernard Tapie, Marseille mencapai puncak kejayaan:
- Investasi besar di pemain top: Jean-Pierre Papin, Chris Waddle, Abedi Pelé, Fabien Barthez, Marcel Desailly
- 1989–1992: 4 gelar Ligue 1 berturut-turut
- 1993: Juara Liga Champions — puncak segalanya
- Tapi…
- Terbukti menyuap Valenciennes untuk kalah di laga domestik (agar pemain istirahat untuk final Liga Champions)
- Didegradasi ke Ligue 2 pada 1994 — meski gelar Eropa tidak dicabut oleh UEFA
💬 “Kami menang di Eropa dengan kecurangan di Prancis. Tapi sejarah hanya ingat kemenangan.”
— Kritikus Prancis
🏟️ Stade Vélodrome: Istana di Atas Bukit
- Dibuka: 1937 (direnovasi total untuk Piala Eropa 1984 dan Piala Dunia 2016)
- Kapasitas: 67.394 — stadion klub terbesar di Prancis
- Karakteristik:
- “Virage Sud” diisi oleh “Commando Ultra” — kelompok suporter paling fanatik di Prancis
- Suasana sangat panas dan intimidatif — disebut “neraka selatan”
- Stadion menghadap ke Pelabuhan Tua Marseille — pemandangan spektakuler
🎶 Lagu kebanggaan fans:
“Droit au but, on va gagner!”
(Lurus ke gawang, kita akan menang!)
🔥 Rivalitas Abadi
- Paris Saint-Germain (PSG) → “Le Classique”
- Rival paling sengit di Prancis — melambangkan Marseille (selatan, kelas pekerja) vs Paris (utara, elit)
- Pertandingan selalu emosional, penuh kartu, dan tensi tinggi
- Olympique Lyonnais (OL) → “Derbi Rhône-Méditerranée”
- AS Monaco → rival historis di peta sepak bola Prancis selatan
📉 Masa Kelam & Kebangkitan (2000–Sekarang)
- 2000: Juara Ligue 1 terakhir
- 2000–2016: Sering terlibat perebutan gelar, tapi gagal juara
- 2016: Dibeli oleh Frank McCourt — bawa stabilitas finansial
- 2018: Final Liga Europa — kalah 3–4 dari Atlético Madrid
- 2020–2023: Konsisten di 3 besar Ligue 1, lolos ke Liga Champions
💡 Fakta Unik
- Marseille adalah satu-satunya klub Prancis yang tidak pernah bangkrut atau terdegradasi sejak 1996.
- “Droit au But” (Lurus ke Gawang) adalah semboyan resmi klub — tertulis di lambang.
- Fans Marseille adalah satu-satunya di Prancis yang dilarang masuk stadion PSG sejak 1990-an karena kerusuhan.
- Klub ini menolak tawaran investor Timur Tengah — tetap ingin jadi “klub rakyat”.
🏁 Masa Depan: Mengejar Gelar Ligue 1 ke-10
- 2024/25: Target — juara Ligue 1 pertama dalam 25 tahun
- Fokus pada:
- Pembinaan pemain muda
- Gaya bermain ofensif ala pelatih Jean-Louis Gasset
- Bangun tim yang bisa menyaingi PSG
“We don’t just play football. We defend the soul of the South.”
💬 Kesimpulan
Olympique de Marseille bukan hanya klub sepak bola.
Ia adalah simbol gairah Mediterania, kebanggaan selatan Prancis, dan bukti bahwa sejarah bisa diwarnai emas — meski dengan noda.
“À Marseille, on ne triche pas avec le cœur.”
(“Di Marseille, kau tak main-main dengan hati.”)
