Parma Calcio 1913
🔴🤍 Profil Singkat Parma Calcio 1913
- Nama lengkap: Parma Calcio 1913
- Didirikan: 1913 (klub asli); dibangun ulang pada 2015 setelah bangkrut
- Kota: Parma, Emilia-Romagna, Italia
- Stadion: Stadio Ennio Tardini (kapasitas: 21.473)
- Warna seragam: Kuning dan Biru
- Julukan:
- I Crociati (Para Salibis) — dari lambang salib merah di dada jersey
- Gialloblù (Kuning-Biru)
- Pemilik: Konsorsium “Parma 2022” (dipimpin Kyle Krause, pengusaha AS), sejak 2018
🏆 Prestasi: Raksasa Eropa yang Bangkit dari Abu
Parma adalah bukti hidup bahwa kejatuhan terdalam bisa diikuti oleh kebangkitan paling luhur.
Era Keemasan (1990–2002): Kejayaan Eropa
Di bawah kepemilikan Grup Parmalat (konglomerat susu), Parma jadi kekuatan Eropa:
- Piala Winners’ Cup: Juara 1993 (kalahkan Royal Antwerp 3–1)
- Piala UEFA: Juara 1995 (kalahkan Juventus 2–1 agg), 1999 (kalahkan Marseille 3–0)
- Piala Super UEFA: Juara 1993
- Coppa Italia: 3 kali juara (1992, 1999, 2002)
- Supercoppa Italiana: 1 kali juara (1999)
💡 Parma adalah satu-satunya klub Italia yang menjuarai Piala Winners’ Cup, Piala UEFA, dan Piala Super UEFA — tanpa pernah juara Serie A.
Keterpurukan & Kebangkitan (2015–2021)
- 2015: Bangkrut total, dihapus dari Serie A, harus mulai dari Serie D (kasta ke-4)!
- 2016–2018: 3 promosi dalam 3 tahun — kembali ke Serie A pada 2018
- 2021: Lolos ke Liga Europa — hanya 6 tahun setelah bangkrut!
✝️ Asal Julukan “I Crociati” (Para Salibis)
- Nama ini berasal dari lambang salib merah di dada jersey, yang diadopsi pada 1920-an sebagai penghormatan pada sejarah agama dan ksatria Parma.
- Warna kuning-biru melambangkan kemewahan (emas) dan langit kota Parma.
💬 “Kami bukan hanya klub. Kami adalah kota yang bermain bola.”
🌟 Era Emas: Tim Impian 1990-an
Dengan dana Parmalat, Parma membangun tim impian:
- Pemain legendaris:
- Gianluigi Buffon (kiper muda)
- Lilian Thuram, Fabio Cannavaro (duet bek terbaik dunia)
- Hernán Crespo, Enrico Chiesa (striker tajam)
- Juan Sebastián Verón, Dino Baggio (gelandang kelas dunia)
- Pelatih ikonik: Nevio Scala, Carlo Ancelotti, Alberto Malesani
💥 1999: Parma kalahkan Barcelona, Chelsea, dan Marseille dalam satu musim Eropa — puncak kejayaan.
🏟️ Stadio Ennio Tardini: Istana di Jantung Emilia-Romagna
- Dibuka: 1923
- Kapasitas: 21.473
- Karakteristik:
- “Curva Nord” diisi oleh “Boys Parma” — suporter paling fanatik
- Stadion dikelilingi restoran dan pabrik prosciutto — khas kota kuliner Parma
- Suasana intim, emosional, dan penuh gairah
- Fakta: Ini adalah satu-satunya stadion di Italia yang namanya diambil dari presiden klub, bukan pahlawan atau politisi.
🎶 Lagu kebanggaan fans:
“Parma, Parma… Cuore Gialloblù!”
(Parma, Parma… Hati Kuning-Biru!)
📉 Tragedi Parmalat (2003–2015)
- 2003: Skandal keuangan Parmalat — €14 miliar hilang
- Klub kehilangan dana, jual semua bintang, terjerumus utang
- 2015: Hutang €218 juta, gaji pemain ditahan, terdegradasi ke Serie D
- Fans menyebutnya “l’anno della vergogna” (tahun aib)
💔 Tapi justru di titik terendah, semangat Gialloblù tak padam.
🦅 Kebangkitan Ajaib (2015–2021)
- 2015: Didirikan ulang sebagai SSD Parma Calcio 1913
- 2016: Juara Serie D → promosi ke Serie C
- 2017: Juara Serie C → promosi ke Serie B
- 2018: Promosi ke Serie A lewat playoff — 3 promosi dalam 3 tahun!
- 2020–21: Finish ke-12 di Serie A, lolos ke Liga Europa (via piala)
💬 “Dari abu, kami lahir kembali. Dengan warna yang sama, jiwa yang lebih kuat.”
🔥 Rivalitas Utama
- Reggiana → “Derbi dell’Enza”
- Rival lokal — jarak hanya 20 km
- Bologna → “Derbi Emilia”
- Rival historis antara dua kota industri Emilia-Romagna
- Juventus & Inter → rival era kejayaan Eropa
💡 Fakta Unik
- Parma adalah satu-satunya klub di dunia yang bangkit dari Serie D ke Liga Europa dalam 6 tahun.
- Stadio Tardini adalah satu-satunya di Italia yang dikelilingi pabrik prosciutto dan keju Parmigiano.
- Klub ini menolak sponsor judi sejak 2018 — sesuai nilai keluarga Parma.
- “Boys Parma” adalah satu-satunya kelompok suporter di Italia yang membayar gaji pemain muda saat bangkrut.
🏁 Masa Depan: Membangun Kembali Warisan Emas
- 2024/25: Target — konsisten di papan tengah Serie A, bangun tim muda
- Fokus pada:
- Akademi muda “Academy Parma”
- Gaya bermain ofensif ala pelatih Fabio Pecchia
- Jangan pernah lupa akar “klub keluarga”
“We’ve been to hell and back. Now, we play for glory — and for Parma.”
💬 Kesimpulan
Parma Calcio 1913 bukan hanya klub sepak bola.
Ia adalah monumen ketahanan, puisi dalam bentuk kebangkitan, dan bukti bahwa cinta fans bisa menghidupkan kembali yang mati.
“In Parma, we don’t just play football. We live history — one comeback at a time.”
