Sisi Gelap Vietnam: Realitas di Balik Pertumbuhan Ekonomi yang Mengagumkan
Vietnam sering dipuji sebagai kisah sukses ekonomi Asia Tenggara, dengan pertumbuhan pesat, investasi asing melonjak, dan pariwisata yang booming. Negara ini berhasil keluar dari kemiskinan ekstrem dan menjadi pusat manufaktur global. Namun, di balik kemajuan itu, ada sisi gelap Vietnam yang mencakup represi politik ketat, korupsi sistemik, polusi lingkungan parah, kemacetan urban, serta masalah sosial seperti perdagangan manusia dan ketimpangan. Hingga akhir 2025, isu-isu ini tetap menjadi tantangan besar bagi negara berideologi komunis ini.


Kemacetan dan Polusi Udara: Momok Kota Besar
Sisi gelap Vietnam yang paling terasa sehari-hari adalah kemacetan lalu lintas dan polusi udara di Hanoi serta Ho Chi Minh City. Jutaan motor dan mobil memadati jalan, menyebabkan kemacetan parah dan kabut asap tebal. Pada 2025, Vietnam masih masuk daftar negara dengan kualitas udara buruk di ASEAN, dengan Hanoi sering diselimuti smog dari emisi kendaraan dan industri.


Polusi ini berdampak pada kesehatan warga, dengan peningkatan penyakit pernapasan. Meski ada upaya transisi energi, pertumbuhan industri cepat membuat masalah ini sulit teratasi.
Pencemaran Lingkungan: Sungai dan Plastik yang Membahayakan
Polusi plastik dan limbah industri menjadi salah satu sisi gelap Vietnam yang paling mencolok. Sungai-sungai seperti Mekong dan kanal-kanal di kota dipenuhi sampah plastik, membuat Vietnam salah satu penyumbang terbesar polusi plastik laut global. Pada 2025, isu mikroplastik di air semakin mengkhawatirkan.


Aktivis lingkungan sering menghadapi represi, dengan beberapa dipenjara atas tuduhan palsu. Kampanye anti-polusi ada, tapi implementasi lemah karena prioritas ekonomi.
Represi Politik dan Pelanggaran HAM
Pemerintahan satu partai Komunis membuat kebebasan berekspresi sangat terbatas. Pada 2025, Vietnam memenjarakan ratusan aktivis, jurnalis, dan blogger yang mengkritik pemerintah, korupsi, atau isu lingkungan. Hukuman berat atas pasal seperti “propaganda anti-negara” atau “penyalahgunaan demokrasi” marak digunakan.


Human Rights Watch mencatat peningkatan penangkapan, dengan lebih dari 200 tahanan politik. Kritik terhadap partai dianggap ancaman eksistensial.
Korupsi Sistemik dan Kampanye Anti-Korupsi yang Kontroversial
Korupsi tetap endemik, meski ada kampanye “Blazing Furnaces” yang menargetkan pejabat tinggi. Pada 2025, kasus-kasus besar seperti penipuan bank miliaran dolar terus muncul, sering digunakan untuk purge politik internal.
Vietnamese teen’s escape from the China trafficking trade that …
Banyak yang melihat kampanye ini selektif, untuk membersihkan rival daripada akar masalah.
Kemiskinan, Ketimpangan, dan Perdagangan Manusia
Meski kemiskinan ekstrem menurun, ketimpangan antara kota dan desa tetap tinggi. Kawasan kumuh di pinggiran Hanoi dan Ho Chi Minh City masih ada, dengan akses sanitasi buruk. Perdagangan manusia, terutama perempuan ke China untuk pernikahan paksa, jadi isu serius meski ada undang-undang baru pada 2025.


Harapan di Tengah Kegelapan
Meski penuh sisi gelap Vietnam, ada kemajuan seperti upaya anti-perdagangan manusia dan transisi energi. Masyarakat sipil, meski tertekan, terus mendorong perubahan melalui media sosial.
Kesimpulan: Vietnam yang Kompleks
Sisi gelap Vietnam ini mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak selalu sejalan dengan kebebasan dan keadilan sosial. Di bawah kepemimpinan komunis, negara ini sukses secara materi, tapi bayar mahal dengan represi dan degradasi lingkungan. Memahami sisi ini penting untuk melihat Vietnam secara utuh—sebuah negara penuh kontradiksi yang terus berjuang mencari keseimbangan.
