Info terkini Tentang Permainan Online

Latar Belakang: Masuknya Agama Hindu-Buddha ke Nusantara

Candi-candi di Indonesia mulai dibangun sejak abad ke-4 Masehi, sejalan dengan masuknya agama Hindu dan Buddha ke wilayah Nusantara (kini Indonesia). Agama ini dibawa oleh:

  • Pedagang India yang berlayar melalui jalur perdagangan maritim,
  • Brahmana dan biksu yang menyebarkan ajaran,
  • Hubungan diplomatik antara kerajaan lokal dan kerajaan di India.

Kerajaan-kerajaan awal seperti Kutai (Kalimantan Timur, abad ke-4) dan Tarumanagara (Jawa Barat, abad ke-5) mulai membangun prasasti dan struktur suci yang menjadi cikal bakal candi.


Masa Kejayaan: Abad ke-8–15 Masehi

Puncak pembangunan candi terjadi pada masa kejayaan kerajaan-kerajaan besar di Jawa, Sumatra, dan Bali:

1. Zaman Kerajaan Mataram Kuno (Hindu-Buddha, abad ke-8–10)

  • Candi Borobudur (dibangun sekitar 800–825 M):
    Dibangun oleh wangsa Syailendra yang beragama Buddha Mahayana.
    Merupakan monumen Buddha terbesar di dunia, berbentuk mandala raksasa dengan relief yang menceritakan kisah kehidupan Buddha dan ajaran Dharma.
    Terletak di Magelang, Jawa Tengah.
  • Candi Prambanan (dibangun sekitar 850 M):
    Dibangun oleh raja Rakai Pikatan dari wangsa Sanjaya yang beragama Hindu Siwa.
    Kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia, didedikasikan untuk Trimurti: Brahma (pencipta), Wisnu (pemelihara), dan Siwa (pelebur).
    Reliefnya menggambarkan kisah Ramayana.

Borobudur dan Prambanan berdiri berdekatan — simbol harmoni dan persaingan damai antara dua agama besar di masa itu.

2. Zaman Kerajaan Sriwijaya (Buddha, abad ke-7–13)

  • Berpusat di Palembang, Sumatra Selatan, Sriwijaya adalah pusat ajaran Buddha Mahayana dan Vajrayana.
  • Membangun candi seperti Candi Muara Takus (Riau) dan Candi Biaro di Sumatra.
  • Menjadi pusat pendidikan Buddha internasional — bahkan biksu Tiongkok I-Tsing belajar di sini pada abad ke-7.

3. Zaman Majapahit (Hindu-Buddha sinkretis, abad ke-13–15)

  • Kerajaan Majapahit di Jawa Timur memadukan ajaran Hindu dan Buddha dalam satu sistem kepercayaan (disebut Siwa-Buddha).
  • Membangun candi seperti Candi Penataran, Candi Jawi, dan Candi Surawana.
  • Arsitektur bergeser ke gaya Jawa Timuran: lebih sederhana, relief lebih penuh, dan sering berbentuk punden berundak.

4. Zaman Bali (Hindu, abad ke-10–sekarang)

  • Setelah runtuhnya Majapahit, para bangsawan dan pendeta Hindu pindah ke Bali.
  • Di Bali, tradisi membangun candi (disebut pura) terus berlangsung hingga kini.
  • Candi di Bali seperti Pura Besakih dan Pura Ulun Danu dibangun dengan arsitektur khas: meru (tumpang, atap bertingkat), menghadap gunung (suci), dan berfungsi sebagai tempat ibadah aktif.

Fungsi dan Makna Candi

Candi di Indonesia bukan sekadar bangunan kuno — memiliki makna spiritual yang dalam:

  • Tempat pemujaan: untuk dewa (Hindu) atau Buddha/Bodhisattva (Buddha).
  • Makam sucinya raja: banyak candi berfungsi sebagai tempat penyimpanan abu jenazah raja yang dianggap titisan dewa (misalnya Candi Simping untuk Raja Kertanegara).
  • Simbol kosmologi: bentuk candi melambangkan gunung suci (Gunung Meru), pusat alam semesta dalam kepercayaan Hindu-Buddha.
  • Pendidikan visual: relief candi berfungsi sebagai “buku batu” yang mengajarkan moral, sejarah, dan filsafat kepada masyarakat buta huruf.

Bahan dan Teknologi Pembangunan

  • Batu andesit: paling umum di Jawa Tengah (kuat, tahan cuaca).
  • Bata merah: digunakan di Jawa Timur dan Sumatra (misalnya Candi Bahal).
  • Teknik tanpa perekat: batu disusun dengan sistem pasak dan lubang (knock-down), sangat presisi.
  • Tidak ada catatan tertulis tentang arsiteknya — semua dibangun oleh pekerja rakyat atas perintah raja, sebagai bentuk bakti dan pengabdian.

Penutup: Warisan Dunia yang Tak Ternilai

Candi-candi Indonesia adalah bukti kejayaan peradaban Nusantara yang:

  • Mampu menyerap budaya asing (India), lalu mengolahnya menjadi ciri khas sendiri,
  • Memiliki tingkat spiritualitas, seni, dan teknik tinggi,
  • Menjadi jembatan sejarah antara masa lalu dan identitas bangsa hari ini.

Hingga kini, Borobudur dan Prambanan diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia, bukan hanya milik Indonesia — tapi warisan kemanusiaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *