Como 1907
π΅βͺ Profil Singkat Como 1907
- Nama lengkap: Como 1907
- Didirikan: 25 Mei 1907
- Kota: Como, Lombardia, Italia
- Stadion: Stadio Giuseppe Sinigaglia (kapasitas: 13.602)
- Warna seragam: Biru dan Putih
- Julukan:
- I Lariani (dari nama Latin Danau Como: Larius)
- I BiancoblΓΉ (Si Biru-Putih)
- Pemilik: Dazn Group (melalui konsorsium yang dipimpin Thohir β mantan pemilik Inter Milan β dan pengusaha AS/Eropa), sejak 2022
π Prestasi: Dari Kasta Terbawah ke Serie A
Como bukan klub penuh trofi, tapi memiliki salah satu kisah kebangkitan paling dramatis dalam sepak bola Italia modern.
Domestik (Italia)
- Belum pernah juara Serie A
- Pencapaian terbaik:
- Peringkat ke-5 di Serie A (1984β85)
- Runner-up Piala Italia (1984β85)
- Konsistensi lama:
- 10 musim berturut-turut di Serie A (1976β1986)
- Keterpurukan:
- Bangkrut 2 kali (2004, 2017)
- Harus mulai dari Serie D (kasta ke-4) pada 2017
Kebangkitan Modern (2019β2024)
- 2019: Promosi ke Serie C
- 2021: Promosi ke Serie B
- 2024: Finish ke-2 di Serie B β promosi ke Serie A 2024/25
β Kembali ke kasta tertinggi setelah 21 tahun!
π‘ Como adalah satu-satunya klub di Italia yang bangkit dari Serie D ke Serie A dalam 7 tahun dengan dukungan pemilik internasional.
π Asal Identitas: Klub di Tepi Danau Terindah di Dunia
- Kota Como terletak di ujung selatan Danau Como, salah satu danau paling indah di Eropa, dikelilingi Alpen dan villa mewah.
- Warna biru-putih melambangkan air dan langit Danau Como.
- Julukan “I Lariani” berasal dari nama Latin danau: Lacus Larius.
π¬ “Kami bukan hanya bermain di Italia. Kami bermain di lukisan.”
ποΈ Stadio Giuseppe Sinigaglia: Permata di Tepi Danau
- Dibuka: 1927
- Kapasitas: 13.602 β stadion terkecil di Serie A 2024/25
- Lokasi: Hanya 300 meter dari tepi Danau Como β satu-satunya stadion di Eropa yang begitu dekat dengan danau alami.
- Karakteristik:
- “Curva Lario” diisi oleh “Commando Ultra Como” β suporter paling fanatik
- Suasana intim, tenang, tapi penuh gairah lokal
- Pemandangan gunung dan danau dari tribun β salah satu yang paling indah di dunia
πΆ Lagu kebanggaan fans:
“Como, Comoβ¦ Sempre in alto!”
(Como, Como⦠Selalu tinggi!)
ποΈ Era Emas: 1980-an β Ketika Como Mendunia
Di bawah pelatih legendaris Giovanni Trapattoni (1978β1982), Como mencapai puncaknya:
- Gaya bermain: Teknis, disiplin, taktis
- Pemain ikonik:
- Stefano Borgonovo
- Giampiero Marini
- Alessandro Altobelli (dipinjam dari Inter)
- 1984β85:
- Peringkat ke-5 di Serie A
- Final Piala Italia β kalah 1β2 dari Juventus
π₯ Musim itu dianggap “puncak kejayaan Como” β sebelum dekade keterpurukan dimulai.
π° Revolusi Kepemilikan: Dari Amatir ke Global
- 2019: Dibeli oleh konsorsium Thailand (Kerry Zoumanian)
- 2022: Diakuisisi oleh Dazn Group (platform streaming olahraga global) + Thohir (mantan presiden Inter Milan)
- Investasi besar di:
- Infrastruktur akademi
- Perekrutan pemain muda berbakat
- Modernisasi Stadion Sinigaglia
- Model: Bangun “klub kota kecil dengan visi global”, seperti Atalanta atau Bournemouth.
π₯ Rivalitas Utama
- AC Monza β “Derbi della Brianza”
- Jarak hanya 40 km
- Rivalitas akar dari persaingan antara dua kota industri Lombardia
- Inter Milan & AC Milan β rival regional besar
- Juventus β rival nasional karena sering bertemu di Piala Italia era 1980-an
π‘ Fakta Unik
- Stadio Sinigaglia adalah satu-satunya stadion di Eropa yang dikelilingi danau, gunung, dan villa aristokrat.
- Como adalah satu-satunya klub di Italia yang didirikan di bulan Mei β hari terindah di Danau Como.
- Klub ini menolak sponsor judi β sesuai nilai komunitas lokal.
- George Clooney β penduduk tetap Como β pernah jadi duta klub pada 2000-an!
π Masa Depan: Bertahan di Serie A, Bermimpi di Eropa
- 2024/25: Target utama β hindari degradasi, bangun fondasi Serie A jangka panjang
- Fokus pada:
- Pembinaan pemain muda
- Gaya bermain ofensif ala pelatih Cesc FΓ bregas (mantan bintang Barcelona & Spanyol, kini jadi pelatih Como!)
- Jadikan Como sebagai “tujuan elit” bagi bakat Eropa
π¬ “We donβt just return to Serie A. We return with soul, style, and the lake behind us.”
π¬ Kesimpulan
Como 1907 bukan hanya klub sepak bola.
Ia adalah simbol keindahan alam Italia, kisah kebangkitan dari abu, dan bukti bahwa kota kecil bisa bermimpi besar β selama ada danau, langit biru, dan hati yang tak menyerah.
“In Como, we donβt play football to win. We play to belong.”
