Info terkini Tentang Permainan Online

Adegan Kontroversial di Film “Pengkhianatan G30S/PKI” (1984)

Film Pengkhianatan G30S/PKI karya Arifin C. Noer (1984) menjadi salah satu karya paling kontroversial dalam sejarah perfilman Indonesia. Adegan-adegan di bagian Lubang Buaya, terutama penyiksaan terhadap para jenderal oleh anggota PKI dan Gerwani, sering dikritik karena dianggap berlebihan, tidak didukung bukti historis kuat, dan berfungsi sebagai propaganda Orde Baru. Berikut detail adegan utama yang kontroversial, berdasarkan deskripsi film dan kritik sejarawan.

1. Adegan Penyiksaan Sadis di Lubang Buaya

  • Deskripsi dalam Film: Para jenderal yang ditangkap hidup-hidup (seperti Letjen Suprapto, Letjen Parman, dll.) dibawa ke Lubang Buaya. Mereka disiksa secara brutal: dipukul, ditusuk, disundut rokok, disayat dengan silet (termasuk wajah dan kemaluan), mata dicongkel, serta dipermalukan secara seksual. Penyiksa utama digambarkan sebagai anggota Pemuda Rakyat dan Gerwani (organisasi wanita PKI) yang menari erotis sambil menyanyi “Genjer-Genjer” dan tertawa kejam.
  • Durasi & Dampak Visual: Adegan ini panjang dan grafis (darah berceceran, jeritan korban), diiringi musik dramatis dan lagu “Genjer-Genjer” sebagai simbol kebiadaban.
  • Kontroversi:
    • Tidak Sesuai Fakta Sejarah: Laporan visum et repertum (otopsi resmi 1965) oleh tim dokter forensik (dipimpin Brigjen Roebiono Kertopati) hanya menemukan luka tembakan sebagai penyebab kematian. Tidak ada bukti penyiksaan brutal seperti pencungkilan mata, penyayatan kemaluan, atau penyiletan oleh Gerwani.
    • Propaganda Anti-PKI: Adegan ini sengaja dilebih-lebihkan untuk mendemonisasi PKI dan Gerwani sebagai “biadab” serta “ateis”, membenarkan pembantaian massal 1965-1966. Sejarawan seperti Asvi Warman Adam, John Roosa, dan Bonnie Triyana menyebut ini “rekayasa dramatis” tanpa dasar bukti kuat.
    • Trauma Psikologis: Adegan ini wajib ditonton anak sekolah hingga 1998, menyebabkan trauma bagi generasi 1980-1990-an.

2. Adegan Penculikan & Pembunuhan Awal

  • Deskripsi: Pasukan Cakrabirawa menembak Jenderal Ahmad Yani di rumahnya, menculik yang lain, dan membawa ke Lubang Buaya. Ada adegan darah mengalir dari tubuh Ade Irma Nasution (putri Yani yang tewas tertembak).
  • Kontroversi: Beberapa detail seperti lokasi Halim Perdana Kusuma digambarkan terlalu dekat dengan Lubang Buaya (padahal jaraknya cukup jauh), serta penyudutan PKI sebagai dalang tunggal tanpa konteks politik kompleks.

3. Adegan Lagu “Genjer-Genjer” & Tarian Gerwani

  • Deskripsi: Saat penyiksaan, Gerwani menari erotis dan menyanyi “Genjer-Genjer” sambil tertawa.
  • Kontroversi: Lagu rakyat Jawa ini sebenarnya netral (tentang kemiskinan), tapi digambarkan sebagai simbol kekejaman PKI. Ini dianggap manipulasi untuk membangkitkan kebencian.

Kritik Sejarawan & Dampak

  • Asvi Warman Adam: Film “cacat fakta historis”, adegan penyiksaan tidak sesuai visum.
  • John Roosa: Penggambaran seperti “fantasi propaganda”, korban utamanya ditembak, bukan disiksa ekstrem.
  • Bonnie Triyana: Lebih sebagai propaganda Orde Baru daripada dokumenter sejarah.
  • Hilmar Farid: Efektif tanam kebencian terhadap PKI pada generasi muda.

Film ini (durasi 4,5 jam) diproduksi atas perintah pemerintah Orde Baru (biaya Rp800 juta), wajib tayang hingga 1998. Kini dianggap artefak propaganda, meski masih jadi referensi Hari Kesaktian Pancasila.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *