maxwin mudah
now browsing by category
Sidang cerai dimulai, Ridwan Kamil gandeng 8 pengacara sementara Atalia belum pikirkan harta
JAKARTA: Proses gugatan cerai yang dilayangkan anggota DPR RI Atalia Praratya terhadap suaminya, mantan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (RK), mulai bergulir di Pengadilan Agama Bandung dengan berbagai dinamika dari masing-masing pihak. Pihak RK menggandeng delapan pengacara untuk perceraian ini, sementara pihak Atalia fokus pada perpisahan dan belum memikirkan pembagian harta.
Kuasa hukum Atalia, Debi Agusfriansa, mengungkapkan bahwa prioritas Atalia adalah menyelesaikan proses perceraian terlebih dahulu sebelum masuk ke pembahasan soal harta gana-gini.
“Untuk soal tuntutan harta gana-gini itu sepertinya masih lebih jauh lagi. Kita lagi fokus ke gugatan cerainya dahulu,” kata Debi kepada wartawan melalui kanal YouTube Intens Investigasi, Rabu (17/12).
Debi menambahkan bahwa pembahasan detail mengenai harta bersama baru akan dilakukan setelah putusan perceraian keluar. “Kalau gugatan cerainya itu sudah selesai, nanti kita pikirkan lebih dalam (soal harta gana-gini),” ujarnya.
Ia sebelumnya juga menyinggung keberadaan nama selebgram Lisa Mariana (LM) yang disebut tercantum dalam berkas gugatan cerai Atalia terhadap Ridwan Kamil.
“Kalau terkait LM itu sudah masuk materi gugatan tentunya,” ujar Debi. LM selama ini diketahui berseteru dengan Ridwan Kamil terkait klaim mengenai ayah biologis anak berinisial CA serta persoalan dugaan korupsi Bank Jawa Barat (BJB).
DELAPAN PENGACARA
Sementara itu, menghadapi gugatan cerai ini, Ridwan Kamil menunjuk delapan orang pengacara untuk mendampinginya.
Salah satu kuasa hukumnya, Wenda Aluwi, menyatakan bahwa mereka telah hadir di Pengadilan Agama Bandung untuk mengawal jalannya persidangan.
“Kami bersama delapan orang kuasa hukum, mengawal gugatan ini,” kata Wenda, dikutip dari Merdeka.
Pada sidang awal, baik Ridwan Kamil maupun Atalia sama-sama tidak hadir karena urusan pekerjaan. Wenda menjelaskan ketidakhadiran kliennya: “Hari ini kita cuman lapor kita hadir sebagai kuasa nanti kita lihat apa yang akan terjadi, mediasi tentunya. Bapak belum bisa hadir, masih ada di luar kota.”
Ia menambahkan bahwa pesan dari Ridwan Kamil hanyalah satu: menjalani proses hukum dengan saling menghormati.
“Pesan dari pak RK saling menghormati proses. Yang akan berjalan kan ada gugatan, sudah kita hadir,” kata dia.
Perwakilan kuasa hukum Atalia, Debi, juga menyampaikan alasan serupa terkait ketidakhadiran kliennya.
“Ibu Atalia menyampaikan kepada kami pada dasarnya beliau sangat menghormati proses persidangan ini dan akan tetapi karena acara kedinasan beliau berhalangan hadir, sehingga mewakili kepada kami selaku kuasa hukum,” jelasnya
BANJIR DI SUMATRA DAN ACEH
🌧️ Penyebab Utama Banjir di Sumatra dan Aceh
1. Curah Hujan Ekstrem
- Sumatra dan Aceh berada di iklim tropis basah dengan curah hujan tahunan 2.000–4.000 mm, bahkan bisa mencapai 6.000 mm di daerah pegunungan.
- Musim hujan (Oktober–April) sering membawa hujan lebat berkepanjangan, terutama saat fenomena La Nina (2020–2023) yang memperkuat curah hujan di Indonesia.
2. Deforestasi & Kerusakan Hutan
- Penebangan hutan ilegal dan konversi hutan jadi perkebunan kelapa sawit mengurangi daya serap tanah.
- Di Aceh, tutupan hutan menurun dari 60% (1990) menjadi <50% (2023).
- Di Sumatra, lebih dari 50% hutan hujan dataran rendah telah hilang sejak 1985.
3. Sedimentasi & Pendangkalan Sungai
- Tanah longsor dari pegunungan mengalir ke sungai → sungai dangkal → kapasitas tampung berkurang.
- Contoh: Sungai Aceh, Sungai Musi (Palembang), Sungai Indragiri (Riau) sering meluap karena pendangkalan.
4. Luapan Sungai Besar
- Aceh: Sungai Aceh, Sungai Jambo Aye
- Sumatra Utara: Sungai Asahan, Sungai Bah Bolon
- Sumatra Barat: Sungai Batang Arau, Sungai Indragiri
- Riau & Jambi: Sungai Kampar, Sungai Batang Hari
- Sumatra Selatan: Sungai Musi — Palembang sering banjir rob + luapan
5. Banjir Rob (Pasang Air Laut)
- Di pesisir timur Sumatra (Riau, Sumatra Selatan, Aceh Timur), kombinasi pasang air laut tinggi + hujan menyebabkan banjir rob yang memperparah genangan.
🗓️ Kejadian Banjir Besar dalam Sejarah
🔥 Aceh
- Desember 2006: Banjir besar di Banda Aceh pasca-tsunami — 15.000 orang mengungsi.
- Desember 2020: Banjir bandang di Subulussalam dan Aceh Tenggara — 8 orang tewas, 10.000 terdampak.
- Januari 2024: Banjir di Lhokseumawe, Bireuen, Aceh Utara — 30 kecamatan terendam, 50.000+ warga terdampak.
🔥 Sumatra
- November 2020: Banjir di Padang (Sumatra Barat) — 12 orang tewas, Kota Padang lumpuh.
- Februari 2021: Banjir bandang di Mukomuko, Bengkulu — jembatan ambruk, akses terputus.
- November 2023: Banjir di Palembang — 70% kota terendam, termasuk kawasan pusat bisnis.
- Januari 2024: Banjir di Riau, Jambi, Sumatra Selatan — 200.000+ orang terdampak, sawah dan perkebunan hancur.
👥 Dampak Sosial & Ekonomi
- Korban jiwa: Ratusan orang tewas dalam 10 tahun terakhir.
- Pengungsian: Rata-rata 50.000–200.000 orang mengungsi tiap kejadian besar.
- Infrastruktur rusak: Jalan, jembatan, sekolah, rumah sakit lumpuh.
- Ekonomi:
- Perkebunan sawit & karet terendam → petani rugi miliaran rupiah
- Tambak ikan & udang di pesisir rusak
- Transportasi antarkota terhenti (contoh: Medan–Banda Aceh via darat)
🌿 Dampak Lingkungan
- Tanah pertanian jadi asam akibat genangan lama.
- Air bersih tercemar → wabah diare, leptospirosis.
- Habitat satwa liar (harimau Sumatra, gajah, orangutan) terganggu.
- Lumpur mengubur terumbu karang di pesisir.
🛠️ Upaya Penanggulangan
Pemerintah
- Normalisasi sungai: Pengerukan sedimentasi di Sungai Musi, Sungai Aceh.
- Pembangunan tanggul: Di Palembang, Medan, Banda Aceh.
- Sistem peringatan dini banjir: BNPB dan BMKG memantau curah hujan real-time.
- Reboisasi: Program “Sumatra Hijau” dan “Aceh Hijau” menanam jutaan pohon.
Masyarakat & LSM
- Kelompok siaga bencana desa (Desa Tangguh Bencana)
- Penanaman vetiver (rumput akar kuat) di lereng untuk cegah longsor
- Bank sampah untuk kurangi penyumbatan saluran
⚠️ Tantangan ke Depan
- Perubahan iklim → curah hujan ekstrem makin sering.
- Ekspansi perkebunan sawit terus menggerus hutan.
- Pertumbuhan kota tak terkendali → lahan resapan berkurang.
- Minimnya drainase modern di kota-kota menengah.
💬 Kesimpulan
Banjir di Sumatra dan Aceh bukan lagi bencana “alamiah murni”, tapi bencana akibat interaksi alam dan manusia.
Hutan yang hilang, sungai yang dangkal, dan kota yang tumbuh tanpa perencanaan — semua berkontribusi pada siklus banjir yang kini terjadi hampir setiap tahun.
“Banjir bukan takdir. Ia adalah cermin dari cara kita memperlakukan bumi.”









