taruhan bola
now browsing by category
Film Propaganda Orde Baru Lain Selain Pengkhianatan G30S/PKI
Selama Orde Baru (1966–1998), pemerintah Soeharto menggunakan film sebagai alat propaganda utama untuk membentuk narasi resmi: menekankan bahaya komunisme/PKI, memuliakan Pancasila, dan mengagungkan pembangunan serta kepemimpinan Soeharto. Selain Pengkhianatan G30S/PKI (1984) yang paling terkenal dan wajib tayang, ada beberapa film lain yang jelas berfungsi sebagai propaganda negara. Berikut daftar utama:
1. Janur Kuning (1980)
- Sutradara: Alam Surawidjaja
- Produser: G. Dwipayana (sama dengan G30S/PKI)
- Sinopsis: Menggambarkan peran Soeharto sebagai “pahlawan penumpas G30S” melalui operasi penyelamatan Presiden Soekarno di Istana Bogor (disebut “Operasi Janur Kuning”).
- Elemen Propaganda:
- Soeharto digambarkan sebagai satu-satunya jenderal yang tenang, berani, dan berpikir jernih saat chaos.
- PKI digambarkan sebagai pengkhianat yang ingin membunuh Soekarno.
- Adegan heroik Soeharto memerintahkan pasukan menumpas pemberontak.
- Dampak: Film ini jadi “pendamping” G30S/PKI untuk menegaskan Soeharto sebagai penyelamat bangsa.
2. Serangan Fajar (1981)
- Sutradara: Arifin C. Noer
- Sinopsis: Rekonstruksi Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta, dengan fokus peran Soeharto (saat masih letnan kolonel) sebagai komandan sektor.
- Elemen Propaganda:
- Soeharto digambarkan sebagai pahlawan perang kemerdekaan yang brilian.
- Menekankan nasionalisme dan anti-kolonialisme, sekaligus membangun citra Soeharto sebagai pemimpin militer sejak muda.
- Catatan: Film ini bagian dari upaya membangun “kultus kepribadian” Soeharto sebagai pahlawan dari perang kemerdekaan hingga penumpas PKI.
3. Perjuangan dan Doa (1980)
- Sutradara: Matnoor Tindaon
- Sinopsis: Kisah perjuangan rakyat Indonesia melawan penjajah, dengan penekanan pada nilai-nilai Pancasila dan pembangunan Orde Baru.
- Elemen Propaganda: Menggambarkan Orde Baru sebagai penerus semangat perjuangan 1945, kontras dengan “kekacauan” Orde Lama.
4. Film Dokumenter & Pendek PPFN (Pusat Produksi Film Negara)
Orde Baru memproduksi ratusan film pendek dan dokumenter melalui PPFN (didirikan 1975):
- Indonesia Maju series: Pembangunan infrastruktur, Repelita, swasembada pangan.
- Pancasila Sakti: Animasi dan dokumenter tentang “kesaktian Pancasila” melawan komunisme.
- Film Anti-PKI: Seperti “Api Pancasila” atau “Pengkhianatan PKI” versi pendek yang diputar di bioskop sebelum film utama.
5. Film Komersial dengan Sentuhan Propaganda
- Kereta Api Terakhir (1981) – Menggambarkan pembangunan kereta api sebagai simbol kemajuan Orde Baru.
- Beberapa film perang kemerdekaan seperti Enam Jam di Yogya (remake) – menonjolkan peran militer (ABRI) sebagai penjaga negara.
Ciri Umum Film Propaganda Orde Baru
- Produser Utama: G. Dwipayana (kepala PPFN, orang dekat Soeharto).
- Tema Berulang: Anti-PKI, pemujaan Pancasila, pembangunan, peran besar ABRI/Soeharto.
- Wajib Tayang: Banyak diputar di bioskop, sekolah, dan TVRI sebagai “film wajib”.
- Pasca-Reformasi: Banyak dikritik sebagai propaganda, narasi sepihak, dan manipulasi sejarah.
Film-film ini efektif membentuk persepsi publik selama 32 tahun Orde Baru, tapi kini dianggap sebagai artefak propaganda yang kontroversial. Sejarah melalui lensa kekuasaan.
Adegan Kontroversial di Film “Pengkhianatan G30S/PKI” (1984)
Film Pengkhianatan G30S/PKI karya Arifin C. Noer (1984) menjadi salah satu karya paling kontroversial dalam sejarah perfilman Indonesia. Adegan-adegan di bagian Lubang Buaya, terutama penyiksaan terhadap para jenderal oleh anggota PKI dan Gerwani, sering dikritik karena dianggap berlebihan, tidak didukung bukti historis kuat, dan berfungsi sebagai propaganda Orde Baru. Berikut detail adegan utama yang kontroversial, berdasarkan deskripsi film dan kritik sejarawan.
1. Adegan Penyiksaan Sadis di Lubang Buaya
- Deskripsi dalam Film: Para jenderal yang ditangkap hidup-hidup (seperti Letjen Suprapto, Letjen Parman, dll.) dibawa ke Lubang Buaya. Mereka disiksa secara brutal: dipukul, ditusuk, disundut rokok, disayat dengan silet (termasuk wajah dan kemaluan), mata dicongkel, serta dipermalukan secara seksual. Penyiksa utama digambarkan sebagai anggota Pemuda Rakyat dan Gerwani (organisasi wanita PKI) yang menari erotis sambil menyanyi “Genjer-Genjer” dan tertawa kejam.
- Durasi & Dampak Visual: Adegan ini panjang dan grafis (darah berceceran, jeritan korban), diiringi musik dramatis dan lagu “Genjer-Genjer” sebagai simbol kebiadaban.
- Kontroversi:
- Tidak Sesuai Fakta Sejarah: Laporan visum et repertum (otopsi resmi 1965) oleh tim dokter forensik (dipimpin Brigjen Roebiono Kertopati) hanya menemukan luka tembakan sebagai penyebab kematian. Tidak ada bukti penyiksaan brutal seperti pencungkilan mata, penyayatan kemaluan, atau penyiletan oleh Gerwani.
- Propaganda Anti-PKI: Adegan ini sengaja dilebih-lebihkan untuk mendemonisasi PKI dan Gerwani sebagai “biadab” serta “ateis”, membenarkan pembantaian massal 1965-1966. Sejarawan seperti Asvi Warman Adam, John Roosa, dan Bonnie Triyana menyebut ini “rekayasa dramatis” tanpa dasar bukti kuat.
- Trauma Psikologis: Adegan ini wajib ditonton anak sekolah hingga 1998, menyebabkan trauma bagi generasi 1980-1990-an.
2. Adegan Penculikan & Pembunuhan Awal
- Deskripsi: Pasukan Cakrabirawa menembak Jenderal Ahmad Yani di rumahnya, menculik yang lain, dan membawa ke Lubang Buaya. Ada adegan darah mengalir dari tubuh Ade Irma Nasution (putri Yani yang tewas tertembak).
- Kontroversi: Beberapa detail seperti lokasi Halim Perdana Kusuma digambarkan terlalu dekat dengan Lubang Buaya (padahal jaraknya cukup jauh), serta penyudutan PKI sebagai dalang tunggal tanpa konteks politik kompleks.
3. Adegan Lagu “Genjer-Genjer” & Tarian Gerwani
- Deskripsi: Saat penyiksaan, Gerwani menari erotis dan menyanyi “Genjer-Genjer” sambil tertawa.
- Kontroversi: Lagu rakyat Jawa ini sebenarnya netral (tentang kemiskinan), tapi digambarkan sebagai simbol kekejaman PKI. Ini dianggap manipulasi untuk membangkitkan kebencian.
Kritik Sejarawan & Dampak
- Asvi Warman Adam: Film “cacat fakta historis”, adegan penyiksaan tidak sesuai visum.
- John Roosa: Penggambaran seperti “fantasi propaganda”, korban utamanya ditembak, bukan disiksa ekstrem.
- Bonnie Triyana: Lebih sebagai propaganda Orde Baru daripada dokumenter sejarah.
- Hilmar Farid: Efektif tanam kebencian terhadap PKI pada generasi muda.
Film ini (durasi 4,5 jam) diproduksi atas perintah pemerintah Orde Baru (biaya Rp800 juta), wajib tayang hingga 1998. Kini dianggap artefak propaganda, meski masih jadi referensi Hari Kesaktian Pancasila.
Peristiwa G30S/PKI dalam Film: Penggambaran di Layar Lebar
Peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S/PKI) telah menjadi salah satu tema paling kontroversial dalam perfilman Indonesia. Penggambaran di film sangat dipengaruhi oleh narasi resmi Orde Baru, yang menekankan PKI sebagai dalang utama kudeta berdarah. Berikut film-film utama yang mengangkat peristiwa ini, dengan fokus pada Pengkhianatan G30S/PKI yang paling ikonik.
1. Pengkhianatan G30S/PKI (1984) – Film Wajib Orde Baru
- Sutradara: Arifin C. Noer
- Produser: G. Dwipayana (atas perintah Soeharto)
- Durasi: 270 menit (versi panjang)
- Pemain Utama: Amoroso Katamsi (Soeharto), Umar Kayam (Soekarno), Bram Adrianto (Untung), Syu’bah Asa (D.N. Aidit)
Sinopsis & Penggambaran:
- Film ini mengikuti narasi resmi Orde Baru: PKI melalui pasukan Cakrabirawa di bawah Letkol Untung menculik, menyiksa, dan membunuh 6 jenderal + 1 ajudan di Lubang Buaya.
- Adegan paling terkenal dan kontroversial: penyiksaan sadis terhadap para jenderal (mata dicongkel, kemaluan dipotong) oleh Gerwani (organisasi wanita PKI) – narasi yang kini dianggap propaganda dan banyak dibantah sejarawan.
- Film ditutup dengan Soeharto mengambil alih kekuasaan dan menumpas PKI.
Dampak:
- Wajib Tayang: Dari 1984 hingga 1998, film ini wajib ditayangkan di TVRI setiap 30 September dan di sekolah-sekolah.
- Propaganda Orde Baru: Digunakan untuk membenarkan pembantaian massal 1965-1966 dan mengokohkan kekuasaan Soeharto.
- Kontroversi Modern: Setelah Reformasi, adegan penyiksaan dianggap berlebihan dan tidak akurat secara historis. Film ini kini jarang ditayangkan, tapi masih tersedia di YouTube (versi resmi TNI).
2. Film Lain yang Mengangkat G30S/PKI
- Gie (2005) – Sutradara: Riri Riza Menggambarkan latar belakang 1965 dari sudut pandang Soe Hok Gie (aktivis mahasiswa). Tidak fokus pada Lubang Buaya, tapi menunjukkan ketegangan politik dan pembantaian pasca-G30S. Lebih netral dan humanis.
- Sang Penari (2011) – Sutradara: Ifa Isfansyah Adaptasi novel Ahmad Tohari, menggambarkan dampak G30S di pedesaan Jawa: pembantaian massal dan trauma masyarakat.
- November 1828 (2013) – Sutradara: Teguh Karya (remake) Meski latar Perang Diponegoro, ada paralel dengan isu pengkhianatan.
- Documentary & Film Pendek:
- The Act of Killing (2012) & The Look of Silence (2014) oleh Joshua Oppenheimer – Dokumenter internasional yang mengungkap perspektif pelaku pembantaian 1965-66 dari sisi eksekutor, bukan korban resmi.
Kontroversi Penggambaran di Film
- Narasi Orde Baru: Film 1984 menekankan PKI sebagai “biadab” dan “ateis”, dengan adegan sadis untuk membangkitkan kebencian.
- Pasca-Reformasi: Banyak sejarawan (seperti Asvi Warman Adam, John Roosa) membantah detail penyiksaan oleh Gerwani. Versi alternatif menyebut korban ditembak mati, bukan disiksa secara ekstrem.
- Dampak Psikologis: Generasi 1980-1990-an trauma karena wajib nonton film ini di sekolah.
Saat Ini (2025)
Film Pengkhianatan G30S/PKI tidak lagi wajib tayang, tapi tetap jadi referensi sejarah resmi di kurikulum pendidikan dan Hari Kesaktian Pancasila (1 Oktober). Versi digital tersedia di YouTube resmi TNI AD.
Peristiwa G30S/PKI di film mencerminkan bagaimana kekuasaan menggunakan media untuk membentuk narasi nasional. Sejarah yang kompleks, tapi tetap jadi pelajaran penting
Sejarah Lubang Buaya: Saksi Bisu Peristiwa G30S/PKI
Lubang Buaya adalah kawasan di Kelurahan Lubang Buaya, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur, yang menjadi salah satu situs sejarah paling kelam di Indonesia. Nama ini terkenal karena terkait erat dengan Gerakan 30 September 1965 (G30S/PKI), di mana tujuh perwira tinggi TNI Angkatan Darat diculik, disiksa, dibunuh, dan jenazahnya dibuang ke sumur tua di lokasi tersebut.






Asal-Usul Nama Lubang Buaya
Nama “Lubang Buaya” sudah ada jauh sebelum peristiwa 1965. Menurut legenda masyarakat setempat dan catatan sejarah:
- Kawasan ini dulunya rawa dan hutan karet dengan sungai (Kali Sunter) yang banyak dihuni buaya putih (buaya albino atau siluman menurut cerita rakyat).
- Buaya sering membuat lubang di darat untuk bertelur atau beristirahat, sehingga daerah ini disebut “Lubang Buaya”.
- Cerita lain: Saat banjir besar, pasukan Belanda terseret ke lubang karena ulah “Datuk Banjir” yang punya ilmu supranatural.
Nama ini tidak ada hubungan langsung dengan peristiwa G30S/PKI, tapi menjadi identik setelah tragedi tersebut.


Peristiwa G30S/PKI di Lubang Buaya (30 September – 1 Oktober 1965)
Menurut versi sejarah resmi Indonesia:
- Gerakan 30 September (G30S) adalah upaya kudeta yang didalangi Partai Komunis Indonesia (PKI) melalui pasukan Cakrabirawa (pengawal presiden) di bawah Letkol Untung.
- Malam 30 September 1965, pasukan menculik 7 perwira tinggi TNI AD dari rumah mereka karena dianggap bagian dari “Dewan Jenderal” yang akan kudeta Presiden Soekarno.
- Korban (dikenal sebagai 7 Pahlawan Revolusi):
- Jenderal TNI Anumerta Ahmad Yani
- Letjen TNI Anumerta R. Suprapto
- Letjen TNI Anumerta S. Parman
- Letjen TNI Anumerta M.T. Haryono
- Mayjen TNI Anumerta D.I. Panjaitan
- Mayjen TNI Anumerta Sutoyo Siswomiharjo
- Lettu Pierre Andreas Tendean (ajudan Jenderal A.H. Nasution yang selamat)
- Para korban dibawa ke Lubang Buaya (dekat Pangkalan Udara Halim Perdana Kusuma), disiksa, dibunuh, dan jenazahnya dibuang ke sumur maut (kedalaman 12 meter, diameter 75 cm) secara bertumpuk.
- Jenazah ditemukan pada 3-4 Oktober 1965 oleh pasukan RPKAD (cikal bakal Kopassus).
- Peristiwa ini jadi pemicu transisi kekuasaan ke Orde Baru di bawah Soeharto.



Monumen Pancasila Sakti
Untuk mengenang korban dan menegaskan kesaktian Pancasila, dibangun Monumen Pancasila Sakti di lokasi yang sama (diresmikan 1 Oktober 1969 oleh Presiden Soeharto):
- Luas lahan: 14,6 hektar.
- Isi: Patung 7 Pahlawan Revolusi + Garuda Pancasila, Sumur Maut, Museum Paseban (diorama peristiwa), Museum Pengkhianatan PKI, relief perjuangan, rumah pos komando/dapur umum PKI.
- Fungsi: Tempat peringatan Hari Kesaktian Pancasila (1 Oktober) setiap tahun.
Monumen ini jadi situs edukasi sejarah nasional, meski narasi G30S/PKI tetap kontroversial di kalangan sejarawan.
Lubang Buaya bukan hanya nama tempat, tapi simbol tragedi nasional yang mengingatkan pentingnya persatuan dan Pancasila. Kunjungi untuk belajar sejarah langsung! 🇮🇩
Pemain Bintang Al-Nassr FC Musim 2025-26
Al-Nassr FC (julukan Al-Alami atau The Global) tetap jadi salah satu klub terkuat di Roshn Saudi League berkat skuad bertabur bintang, dipimpin Cristiano Ronaldo. Musim ini, mereka bersaing ketat di puncak klasemen dengan tambahan pemain top seperti João Félix dan Kingsley Coman. Berikut pemain bintang utama per Desember 2025:
1. Cristiano Ronaldo (Kapten)
- Posisi: Penyerang
- Usia: 40 tahun
- Kontribusi: 10 gol + 1 assist (musim ini), tetap top scorer potensial.
- Pengaruh: Ikon global, kapten, rekor gol SPL.

.jpg?auto=webp&format=pjpg&width=3840&quality=60)
2. João Félix
- Posisi: Penyerang / Gelandang Serang
- Usia: 26 tahun
- Kontribusi: Top scorer liga sementara (11 gol).
- Pengaruh: Kreatif, dribbling tajam, sinergi dengan Ronaldo.
3. Sadio Mané
- Posisi: Winger Kiri
- Usia: 33 tahun
- Kontribusi: Gol & assist tinggi, kecepatan elite.
- Pengaruh: Eks Liverpool, pengalaman juara.


4. Kingsley Coman
- Posisi: Winger
- Usia: 29 tahun
- Kontribusi: Assist terbanyak tim.
- Pengaruh: Kecepatan & crossing dari Bayern Munich.
5. Marcelo Brozović
- Posisi: Gelandang Tengah
- Usia: 33 tahun
- Kontribusi: Kontrol tempo, passing akurat.
- Pengaruh: Eks Inter Milan, juara Champions League.

6. Aymeric Laporte
- Posisi: Bek Tengah
- Usia: 31 tahun
- Kontribusi: Leader pertahanan, clean sheet tinggi.
- Pengaruh: Eks Man City, juara Premier League.


7. Otávio
- Posisi: Gelandang
- Usia: 30 tahun
- Kontribusi: Visi & energy tinggi.
- Pengaruh: Eks Porto, talenta Portugal.


Skuad Al-Nassr penuh talenta Eropa & lokal, target juara SPL & AFC. Al-Alami on top! 🔥
Klub yang Mendominasi Liga Arab Saudi (Roshn Saudi League)
Liga utama di Arab Saudi adalah Roshn Saudi League (Saudi Pro League/SPL), liga sepak bola profesional tertinggi di negara itu. Klub yang paling mendominasi sepanjang sejarah adalah Al-Hilal SFC dari Riyadh. Mereka memegang rekor 21 gelar liga (termasuk era sebelum dan sesudah rebranding SPL pada 2008), jauh di atas klub lain.
Klub Paling Sukses di SPL Sepanjang Sejarah
Berikut daftar klub dengan gelar liga terbanyak (per Desember 2025):
| Peringkat | Klub | Jumlah Gelar Liga | Gelar Terbaru | Catatan |
|---|---|---|---|---|
| 1 | Al-Hilal | 21 | 2023-24 | Klub tersukses Asia, 4x AFC Champions League |
| 2 | Al-Ittihad | 10 | 2024-25 | Juara bertahan musim ini |
| 3 | Al-Nassr | 9 | – | Rumah Cristiano Ronaldo |
| 4 | Al-Shabab | 6 | – | – |
| 5 | Al-Ahli | 3 | – | – |
Al-Hilal disebut “raja” karena dominasi era modern: 8 gelar di SPL era (sejak 2008), termasuk unbeaten season 2023-24. Mereka juga paling sukses di Asia (rekor AFC Champions League).
Dominasi Musim 2025-26 (Per Desember 2025)
Musim ini, Al-Ittihad juara bertahan, tapi Al-Hilal lagi memimpin klasemen sementara dengan performa kuat (11 menang dari 13 laga awal). Al-Nassr (dengan Ronaldo) dan Al-Ittihad ikut bersaing ketat.
Mengapa Al-Hilal Paling Mendominasi?
- Investasi PIF (Public Investment Fund) sejak 2023: Bintang seperti Rúben Neves, Kalidou Koulibaly.
- Rekor Tak Terkalahkan: 34 laga unbeaten (rekor dunia klub).
- Pengaruh Global: Saingi liga Eropa dengan bintang top.
Liga Saudi terus naik daun berkat Vision 2030, dengan target jadi top 3 liga dunia. Al-Hilal tetap yang paling dominan! 🔥
Perbedaan Laporan Tahunan dalam Akuntansi dan Pelaporan Keuangan
Perbedaan Laporan Tahunan dalam Akuntansi dan Pelaporan Keuangan
“Laporan tahunan” bisa merujuk pada beberapa jenis laporan yang berbeda tergantung konteksnya. Di Indonesia, istilah ini paling sering digunakan untuk Laporan Keuangan Tahunan perusahaan, tapi ada juga Laporan Tahunan Perusahaan Terbuka (Annual Report) yang lebih komprehensif. Berikut penjelasan lengkap perbedaan utamanya.
1. Laporan Keuangan Tahunan (Financial Statements)
Ini adalah laporan keuangan murni yang wajib disusun oleh setiap entitas bisnis (PT, CV, dll.) sesuai PSAK (Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan).
Komponen Utama:
- Neraca (Balance Sheet)
- Laporan Laba Rugi (Income Statement)
- Laporan Perubahan Ekuitas
- Laporan Arus Kas (Cash Flow Statement)
- Catatan atas Laporan Keuangan (Notes)
Tujuan: Memberikan gambaran posisi keuangan, kinerja, dan arus kas perusahaan pada akhir periode tahunan (biasanya 31 Desember).
Siapa yang Wajib:
- Semua perusahaan (termasuk UMKM dengan ketentuan tertentu).
- Perusahaan terbuka wajib diaudit oleh akuntan publik dan diserahkan ke OJK.
Format: Fokus pada angka-angka keuangan dan penjelasan akuntansi.
2. Laporan Tahunan Perusahaan Terbuka (Annual Report)
Ini adalah dokumen lengkap yang wajib diterbitkan oleh perusahaan terbuka (Tbk) yang上市 di Bursa Efek Indonesia (BEI). Laporan ini mengandung Laporan Keuangan Tahunan sebagai salah satu bagiannya, tapi jauh lebih luas.
Komponen Utama (selain Laporan Keuangan):
- Profil perusahaan dan visi-misi
- Surat dari Direktur Utama / Komisaris
- Tinjauan manajemen (Management Discussion & Analysis/MD&A)
- Tata kelola perusahaan (Good Corporate Governance)
- Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR)
- Informasi saham dan dividen
- Risiko usaha
- Foto, grafik, dan narasi perusahaan
Tujuan: Memberikan informasi komprehensif kepada pemegang saham, investor, analis, dan publik tentang kinerja, strategi, dan prospek perusahaan.
Siapa yang Wajib: Hanya perusahaan terbuka (Tbk) yang上市 di BEI (berdasarkan POJK No. 29/POJK.04/2016).
Format: Dokumen tebal (50–200 halaman), sering full color dengan desain menarik.
Perbedaan Utama dalam Tabel
| Aspek | Laporan Keuangan Tahunan | Laporan Tahunan (Annual Report) |
|---|---|---|
| Ruang Lingkup | Hanya keuangan (neraca, laba rugi, dll.) | Keuangan + narasi bisnis, GCG, CSR, dll. |
| Wajib untuk | Semua perusahaan | Hanya perusahaan terbuka (Tbk) |
| Penyusun | Tim akuntansi internal | Tim akuntansi + tim komunikasi/IR |
| Panjang | 20–50 halaman | 50–200+ halaman |
| Tujuan Utama | Pelaporan akuntansi & pajak | Komunikasi dengan investor & publik |
| Wajib Audit | Ya (untuk perusahaan besar/terbuka) | Ya (laporan keuangan di dalamnya) |
| Dipublikasikan | Internal atau ke pajak/OJK | Publik (website BEI, website perusahaan) |
| Periode | Tahunan (31 Desember) | Tahunan (31 Desember) |
Contoh Nyata
- Laporan Keuangan Tahunan: File Excel/PDF neraca dan laba rugi PT XYZ tahun 2025.
- Laporan Tahunan: Dokumen PDF “Annual Report 2025” Bank BCA atau Telkom Indonesia – berisi foto direksi, grafik pertumbuhan, dan cerita sukses perusahaan.
Kesimpulan
Laporan Keuangan Tahunan adalah bagian inti dari akuntansi murni, sedangkan Laporan Tahunan (Annual Report) adalah versi “lengkap dan cantik” yang ditujukan untuk investor dan publik, khusus perusahaan terbuka.
Jika Anda butuh contoh template atau penjelasan lebih dalam (misalnya PSAK terkait), saya bisa bantu! 😊
Laporan Bulanan Biasa Tutup Buku pada Tanggal Berapa?
Dalam akuntansi dan pelaporan keuangan perusahaan di Indonesia, laporan bulanan (monthly financial report) umumnya ditutup buku pada akhir bulan kalender, yaitu tanggal 30 atau 31 tergantung bulan tersebut.
Penjelasan Lebih Detail:
- Tanggal Penutupan Buku Bulanan:
- Bulan dengan 31 hari (Januari, Maret, Mei, Juli, Agustus, Oktober, Desember): 31
- Bulan dengan 30 hari (April, Juni, September, November): 30
- Februari: 28 (tahun biasa) atau 29 (tahun kabisat)
Contoh:
- Laporan Januari 2025: Tutup buku 31 Januari 2025
- Laporan Februari 2025: Tutup buku 28 Februari 2025
- Laporan Desember 2025: Tutup buku 31 Desember 2025
Praktik Umum di Perusahaan Indonesia
- Tanggal Tutup Buku: Transaksi terakhir yang dicatat adalah hingga pukul 23:59 pada tanggal akhir bulan.
- Proses Penutupan: Biasanya dilakukan pada 1–5 hari kerja bulan berikutnya (misalnya, penutupan Januari dilakukan pada awal Februari).
- Alasan: Agar laporan keuangan bulanan selaras dengan periode kalender, memudahkan perbandingan year-on-year dan pelaporan pajak (misalnya PPN masa, laporan keuangan internal).
Pengecualian
Beberapa perusahaan (terutama multinasional atau dengan fiscal year berbeda) bisa menetapkan tanggal tutup buku bukan akhir bulan kalender, misalnya:
- Tanggal 25 setiap bulan (untuk sinkronisasi gaji atau cutoff operasional).
- Minggu ke-4 setiap bulan.
Namun, untuk laporan bulanan standar di Indonesia (baik perusahaan kecil, menengah, maupun besar), akhir bulan kalender (30/31) adalah praktik paling umum dan sesuai PSAK (Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan).
Jika perusahaan Anda memiliki kebijakan khusus, biasanya tertulis di Accounting Manual atau SOP Keuangan.
Butuh contoh jurnal penutupan atau template laporan bulanan? Saya bisa bantu! 😊









