liga 1
now browsing by tag
Pemain Kunci dalam Sejarah Brentford FC (The Bees)
Brentford memiliki sejarah panjang dengan pemain legendaris, terutama dari era 1930-an (saat promosi ke top-flight pertama) dan era modern (promosi ke Premier League 2021). Berikut beberapa pemain paling ikonik, berdasarkan pencetak gol terbanyak, penampilan terbanyak, Hall of Fame klub, dan dampak mereka.


Era Klasik (1930-an–1960-an)
- Jim Towers (1954–1961): Pencetak gol terbanyak sepanjang masa dengan 163 gol dalam 282 penampilan. Dinobatkan sebagai pemain terbaik Brentford dalam polling Football League 125 tahun. Inducted Hall of Fame 2015.
- George Francis (1955–1961): 136 gol, partner Towers yang legendaris.
- Ken Coote (1949–1964): Rekor penampilan terbanyak (559 laga), bek tangguh era pasca-perang.
- Jack Holliday (1930-an): Kunci promosi ke Divisi One 1935, rekor gol musim tunggal masih bertahan.
- David McCulloch (1935–1938): Striker Skotlandia dengan gol krusial di top-flight awal.



Era Modern (2010-an–Sekarang)
Pemain kunci dalam kebangkitan dan promosi ke Premier League:
- Ivan Toney (2020–2024): 72 gol (termasuk 36 di Premier League), kapten, kunci promosi 2021. Dijual ke Al-Ahli dengan rekor transfer.



- Ollie Watkins (2017–2020): 45 gol di Championship, kunci play-off promosi. Dijual ke Aston Villa dengan profit besar.


- Saïd Benrahma (2018–2020): Winger brilian dengan dribble dan assist, bagian dari trio BMW (dengan Watkins & Mbeumo).


- Kevin O’Connor (2000-an–2010-an): Lebih dari 500 penampilan, kapten legendaris.
- Pontus Jansson (2019–2023): Bek kapten di Premier League awal, inducted Hall of Fame 2024.
Brentford Hall of Fame (didirikan 1991) memiliki 69 anggota hingga 2024, termasuk Idris Hopkins, Joe James, dan inductee terbaru seperti Jansson. Pemain ini mewakili warisan dari era top-flight 1930-an hingga sukses data-driven modern. Come on you Bees! 🔴⚪
Sejarah Brentford Football Club (The Bees)
Brentford FC adalah klub sepak bola profesional dari Brentford, West London, Inggris. Dijuluki The Bees (karena asosiasi historis dengan lebah di daerah tersebut) atau The Reds, klub ini berkompetisi di Premier League dan bermain di Gtech Community Stadium (kapasitas 17.250).




Sebelumnya, mereka bermain di Griffin Park (1904–2020), stadion unik dengan pub di setiap sudut.


Pendirian dan Awal Mula (1889–1920-an)
Klub didirikan pada 1889 di pertemuan rowing club untuk memutuskan olahraga musim dingin (sepak bola menang atas rugby dengan satu suara). Awalnya amatir, bergabung dengan London League (1896) dan Southern League (1898). Juara Southern League Second Division pada 1900–01.
Bergabung dengan Football League pada 1920.



Era Keemasan (1930-an)
Di bawah manajer Harry Curtis, promosi ke Divisi Two (1933) dan Divisi One (1935) untuk pertama kali. Finis top 6 berturut-turut di top-flight (termasuk 5th pada 1935–36). Rekor tak terkalahkan 21 laga kandang pada 1929–30 masih bertahan.
Periode Pasca-Perang dan Fluktuasi (1940-an–2010-an)
Degradasi pada 1947, naik-turun divisi bawah. Hampir bangkrut pada 1967. Era Matthew Benham (pemilik sejak 2012) dengan model analitik data membawa revolusi.
Kebangkitan Modern (2010-an–Sekarang)
Promosi berturut-turut, juara League One (2014), runner-up Championship (2020). Promosi ke Premier League pertama kali sejak 1947 pada 2021 via play-off (menang 2-0 atas Swansea).
Bertahan solid di Premier League dengan gaya bermain atraktif dan rekrutmen cerdas. Pindah ke Gtech Community Stadium pada 2020.
Hingga Desember 2025 (musim 2025–26), Brentford berada di posisi sekitar 15-16 di Premier League dengan sekitar 19 poin, aman dari degradasi tapi mid-table.



Prestasi Utama
- Finis tertinggi Divisi One: 5th (1935–36)
- Juara Divisi Two (1935), Divisi Three (1933, 1992), Divisi Four (1963)
- Promosi ke Premier League (2021)
Evolusi Logo
Logo Brentford sering menampilkan elemen lebah dan kastil, berevolusi menjadi desain modern minimalis.


Rivalitas
Rival utama Fulham (West London Derby) dan Queens Park Rangers.
Brentford adalah kisah inspiratif klub kecil yang naik ke papan atas berkat inovasi dan manajemen cerdas. Come on you Bees! 🔴⚪
Sejarah Fulham Football Club (The Cottagers)
Fulham FC adalah salah satu klub sepak bola tertua di London. Berbasis di Fulham, London Barat, klub ini dijuluki The Cottagers (karena Craven Cottage) atau The Whites. Mereka bermain di Craven Cottage, stadion ikonik di tepi Sungai Thames sejak 1896.





Pendirian dan Awal Mula (1879–1900-an)
Klub didirikan pada 1879 sebagai Fulham St Andrew’s Church Sunday School FC oleh anggota gereja untuk kegiatan pemuda. Pada 1888, nama menjadi Fulham FC. Mereka profesional pada 1898 dan bergabung dengan Southern League.
Pencapaian awal: Promosi ke Divisi Dua pada 1907.


Era Johnny Haynes dan Naik-Turun (1950-an–1990-an)
Legenda Johnny Haynes (1952–1970) adalah kapten Inggris pertama yang dibayar £100/minggu. Semi-final FA Cup 1958 dan 1962. Final FA Cup pertama pada 1975 (kalah dari West Ham).
Hampir bangkrut pada 1987, diselamatkan lewat merger gagal dengan QPR. Era Mohammed Al-Fayed (1997–2013) bawa stabilitas.
Puncak Eropa dan Era Modern (2000-an–2010-an)
Promosi ke Premier League pertama pada 2001 di bawah Jean Tigana. Final Europa League 2010 (kalah 2-1 dari Atlético Madrid di extra time) – pencapaian terbesar, kalahkan Juventus, Shakhtar, dll. Roy Hodgson dinobatkan Manager of the Year.
Dipimpin Shahid Khan sejak 2013. Yo-yo club: Beberapa promosi/degradasi, kembali ke Premier League 2018, 2022.
Saat Ini (Musim 2025–26)
Musim ini adalah musim ke-128 Fulham dan ke-4 berturut-turut di Premier League. Hingga Desember 2025, Fulham berada di posisi mid-table (sekitar 11-14), dengan performa stabil di bawah Marco Silva, aman dari degradasi.


Prestasi Utama
- Runner-up Europa League (2010)
- Final FA Cup (1975)
- Juara Championship (2001, 2022), Divisi Dua beberapa kali
- Semi-final FA Cup berkali-kali
Evolusi Logo
Logo Fulham sering menampilkan inisial FFC dengan elemen sederhana.


Rivalitas
Rival utama Chelsea (West London Derby), juga Brentford dan QPR.
Fulham adalah klub “keluarga” London dengan atmosfer Craven Cottage yang unik. Dari hampir lenyap menjadi tim Premier League tetap, mereka mewakili ketangguhan. Come on You Whites! ⚪⚫
Sejarah AFC Bournemouth (The Cherries)
AFC Bournemouth adalah klub sepak bola profesional dari Bournemouth, Dorset, Inggris. Dijuluki The Cherries (karena warna merah jersey dan ceri lokal) atau Boscombe di masa awal, klub ini berkompetisi di Premier League dan bermain di Vitality Stadium (sebelumnya Dean Court).



Pendirian dan Awal Mula (1899–1920-an)
Klub didirikan pada 1899 sebagai Boscombe FC dari sisa-sisa Boscombe St. John’s Institute FC. Bergabung dengan Football League pada 1923 sebagai Bournemouth & Boscombe Athletic FC.
Pencapaian awal termasuk juara Third Division South Cup pasca-Perang Dunia II.

Periode Naik-Turun (1930-an–2000-an)
Klub sering berpindah divisi. Pada 1971, nama resmi menjadi AFC Bournemouth (AFC ditambahkan agar muncul lebih atas di daftar alfabetis).
Di bawah manajer Harry Redknapp (1983–1992), mereka promosi ke divisi dua. Hampir bangkrut pada 2008, tapi diselamatkan.
Kebangkitan Modern (2010-an–Sekarang)
Di bawah Eddie Howe, promosi berturut-turut: Juara League One 2015, promosi ke Premier League pertama kali pada 2015 (musim ke-100 di liga bawah).
Bertahan 5 musim di Premier League (2015–2020), rekor finis 9th (2016–17). Degradasi 2020, tapi kembali promosi 2022 di bawah Scott Parker.
Sejak kembali, stabil di Premier League. Musim 2025–26 adalah musim ke-4 berturut-turut di top-flight (total ke-9). Hingga Desember 2025, Bournemouth berada di posisi sekitar 13th dengan performa kompetitif, termasuk hasil dramatis seperti imbang 4-4 lawan Manchester United.


Prestasi Utama
- Promosi ke Premier League (2015, 2022)
- Quarter-final FA Cup terbaik (1957, 2021, 2025)
- Quarter-final EFL Cup beberapa kali
Evolusi Logo
Logo sering menampilkan kepala pemain (Dickie Dowsett) dan bola, dengan warna merah-hitam.


Rivalitas
Rival utama adalah klub South Coast seperti Southampton (South Coast Derby) dan Portsmouth.
Bournemouth adalah kisah sukses “underdog” sepak bola Inggris: dari hampir lenyap menjadi tim Premier League tetap dengan gaya bermain menyerang. Up the Cherries! 🍒🔴⚫
Sejarah Rivalitas Newcastle United
Newcastle United Football Club (The Magpies) memiliki beberapa rivalitas penting dalam sejarahnya, tapi yang paling ikonik dan sengit adalah Tyne-Wear Derby melawan Sunderland AFC (The Black Cats). Rivalitas ini sering disebut sebagai salah satu derby terpanas di sepak bola Inggris, mewakili persaingan antara dua kota besar di North East England yang hanya berjarak sekitar 19 km.
Asal-Usul Rivalitas
Rivalitas antara Newcastle dan Sunderland bukan hanya soal sepak bola, tapi berakar dari sejarah panjang:
- English Civil War (1640-an): Newcastle mendukung Royalists (raja), sementara Sunderland menjadi benteng Parliamentarians. Ini menciptakan divisi politik dan ekonomi awal.
- Persaingan Ekonomi Abad 17–19: Newcastle memiliki hak monopoli perdagangan batu bara dari Raja Charles I, yang merugikan Sunderland. Shipbuilding dan pertambangan juga menjadi sumber konflik.
- Rivalitas modern dimulai dengan sepak bola pada akhir abad 19, ketika kedua klub terbentuk dan bersaing di liga awal.
Pertemuan pertama: 1883 (persahabatan), kompetitif pertama: FA Cup 1888 (Sunderland menang 2-0 atas Newcastle East End, nama lama Newcastle).
Statistik Head-to-Head (hingga Desember 2025)
- Total pertemuan kompetitif: ~158
- Kemenangan Newcastle: 54
- Kemenangan Sunderland: 53–54
- Imbang: 50 Sangat seimbang, membuat setiap derby tak terprediksi.
Skor terbesar:
- Sunderland 9–1 Newcastle (1908, di St James’ Park – rekor terbesar derby)
- Newcastle 6–1 Sunderland (1955)
Momen Ikonik
- 1973: Sunderland (Divisi 2) kalahkan Leeds di final FA Cup, tapi derby tetap panas.
- 1990: Play-off Divisi 2 – “derby terbesar sejarah”, Newcastle promosi setelah replay.
- 1999: Sunderland menang di St James’ Park, akibatkan Ruud Gullit mundur sebagai manajer Newcastle.
- 2006: Alan Shearer cetak gol terakhir karirnya via penalti di derby.
- 2011: Ryan Taylor cetak free-kick winner; Newcastle menang terakhir di liga hingga lama.
- 2013–2015: Sunderland menang 6 derby berturut-turut (rekor).
- 2024: Newcastle menang 3–0 di FA Cup (pertama sejak 2016).
- 2025: Derby kembali di Premier League setelah Sunderland promosi; pertandingan terbaru sering berakhir dramatis, seperti own goal atau comeback.
Atmosfer dan Dampak
Derby ini terkenal dengan atmosfer elektrik di St James’ Park (Newcastle) dan Stadium of Light (Sunderland). Suporter Newcastle (Toon Army) dan Sunderland saling ejek, tapi sering ada insiden hooliganisme (misalnya 1990-an–2000-an, larangan away fans sementara).
Rivalitas Lain Newcastle
Meski Sunderland adalah rival utama:
- Middlesbrough (Tyne-Tees Derby): Rival regional lain.
- Manchester United: Dari era 1990-an (Keegan’s “I’d love it”), sering kompetitif.
- Klub lain seperti Tottenham atau Leeds punya sejarah panas, tapi tidak selevel.
Tyne-Wear Derby tetap yang paling emosional, membagi keluarga dan wilayah North East. Saat ini (2025), dengan kedua tim di Premier League, derby kembali menjadi highlight musim! Howay the Lads atau Ha’way the Lads – tergantung sisi mana kamu! ⚫⚪ vs 🔴⚪
Sejarah Sunderland Association Football Club (The Black Cats)
Sunderland AFC adalah salah satu klub sepak bola tertua dan paling bersejarah di Inggris. Berbasis di Sunderland, Tyne and Wear, klub ini dijuluki The Black Cats dan bermain di Stadium of Light (kapasitas 49.000). Motto mereka adalah “Ha’way the Lads!”.
Pendirian dan Awal Mula (1879–1890-an)
Klub didirikan pada 1879 oleh guru sekolah James Allan sebagai Sunderland and District Teachers’ Association Football Club. Pada 1880, nama diubah menjadi Sunderland AFC dan terbuka untuk non-guru. Mereka bergabung dengan Football League pada 1890–91, menggantikan Stoke City.
Di bawah manajer Tom Watson, Sunderland mendominasi era awal: memenangkan 3 gelar liga berturut-turut (1892, 1893, 1895) dan total 6 gelar top-flight (terakhir 1913). Dijuluki “Team of All Talents”, mereka adalah kekuatan besar di akhir abad 19.



Era Keemasan dan FA Cup (1930-an–1970-an)
- Juara liga keenam pada 1936.
- Juara FA Cup pertama pada 1937 (menang 3-1 atas Preston North End sebagai underdog).
- Puncak legendaris: FA Cup 1973 di bawah Bob Stokoe, tim Divisi Dua mengalahkan Leeds United 1-0 (gol Ian Porterfield, save legendaris Jim Montgomery) – salah satu upset terbesar sejarah FA Cup.
Mereka bermain di Roker Park (1898–1997), stadion ikonik dengan “Roker Roar” yang terkenal.
Penurunan dan Fluktuasi (1980-an–2010-an)
- Relegasi pertama ke Divisi Tiga pada 1987 (titik terendah).
- Beberapa promosi/relegasi, termasuk final League Cup 1985 dan 2014 (kalah).
- Pindah ke Stadium of Light pada 1997, dibangun di bekas tambang batubara Monkwearmouth.




Era Modern dan Kembali ke Premier League (2020-an–Sekarang)
Setelah degradasi ke League One (2018), Sunderland promosi kembali ke Championship (2022). Pada musim 2024–25, mereka finis play-off dan promosi ke Premier League setelah menang 2-1 atas Sheffield United di final play-off (gol dramatis Tom Watson di injury time). Ini adalah kembalinya setelah 8 tahun absen.
Di musim 2025–26 (saat ini Desember 2025), Sunderland kembali berkompetisi di Premier League di bawah manajer Regis Le Bris, dengan investasi besar di skuad.


Prestasi Utama
- 6 Gelar Liga Inggris (terbanyak ke-6 sepanjang masa)
- 2 FA Cup (1937, 1973)
- 1 Charity Shield (1936)
- Beberapa gelar divisi bawah
Evolusi Logo
Logo Sunderland sering menampilkan elemen kapal (simbol sejarah maritim kota), kucing hitam (julukan Black Cats sejak 1900-an), dan monumen lokal seperti Penshaw Monument sejak pindah ke Stadium of Light.


Rivalitas
Rival utama adalah Newcastle United (Tyne-Wear Derby) – salah satu derby paling sengit di Inggris, dengan akar sejarah Perang Saudara Inggris.
Sunderland adalah klub dengan warisan kaya, dari dominasi era Victoria hingga perjuangan modern. Saat ini, mereka kembali ke papan atas dan siap bersaing lagi. Ha’way the Lads! ⚫⚪
Sejarah Liverpool Football Club (The Reds)
Liverpool FC adalah salah satu klub sepak bola tersukses dan paling populer di dunia. Berbasis di kota Liverpool, Merseyside, Inggris, klub ini bermain di stadion legendaris Anfield dan memiliki motto “You’ll Never Walk Alone” (YNWA).
Pendirian (1892)
Liverpool FC lahir karena konflik sewa tanah. Pada tahun 1892, pemilik Anfield saat itu, John Houlding, berselisih dengan klub penyewa tanahnya, Everton FC. Everton memutuskan pindah ke Goodison Park. Houlding yang masih memiliki tanah Anfield lalu mendirikan klub baru bernama Liverpool Football Club and Athletic Grounds Company pada 15 Maret 1892. Nama “Liverpool” dipilih karena lebih mencerminkan kota dibanding “Everton”.
Pertandingan pertama Liverpool dimainkan pada 1 September 1892 (menang 7-1 atas Rotherham Town sebagai pertandingan persahabatan).
Era Awal dan Dominasi Pertama (1900–1930-an)
- 1901: Juara Liga Inggris pertama kali
- 1906: Gelar liga kedua Liverpool menjadi klub besar di Inggris, tapi setelah itu sempat naik-turun.
Era Bill Shankly – Revolusi Modern (1959–1974)
Manajer Skotlandia Bill Shankly (ditunjuk Desember 1959) mengubah segalanya:
- Promosi dari Divisi Kedua (1962)
- Juara liga: 1964, 1966, 1973
- Juara FA Cup pertama dalam sejarah klub (1965)
- Juara UEFA Cup pertama (1973)
- Menciptakan The Kop yang legendaris dan lagu “You’ll Never Walk Alone” menjadi anthem resmi
- Membangun Boot Room – filosofi pelatihan dan suksesi manajer dari dalam klub
Era Bob Paisley – Klub Tersukses di Eropa (1974–1983)
Setelah Shankly pensiun, asistennya Bob Paisley melanjutkan:
- 6 gelar Liga Inggris
- 3 Piala Eropa berturut-turut (1977, 1978, 1981) – rekor yang belum terpecahkan hingga kini oleh klub Inggris lain
- 1 UEFA Cup, 3 League Cup Paisley adalah manajer tersukses dalam sejarah Liverpool (20 trofi besar dalam 9 tahun).
Tragedi Heysel (1985) dan Hillsborough (1989)
- Heysel Stadium Disaster (1985): 39 suporter (kebanyakan Juventus) tewas di final Piala Eropa karena kerusuhan suporter Liverpool → Klub-klub Inggris dilarang dari Eropa selama 5 tahun (Liverpool 6 tahun).
- Hillsborough Disaster (1989): 97 suporter Liverpool tewas karena kepadatan di tribun Leppings Lane saat semifinal FA Cup vs Nottingham Forest. Tragedi ini mengubah sepak bola Inggris selamanya (stadion all-seater, Taylor Report).
Era 1990-an – 2010-an: 30 Tahun Tanpa Liga
Meski memenangkan banyak trofi (FA Cup 1992, 2001, 2006; League Cup berkali-kali; Liga Champions 2005), Liverpool tidak pernah juara liga sejak 1990 hingga 2020 (periode terpanjang tanpa gelar liga dalam sejarah mereka).
Puncak Istanbul 2005 – “The Miracle of Istanbul”
Final Liga Champions 2005 vs AC Milan:
- Tertinggal 0-3 di babak pertama
- Bangkit menjadi 3-3 (gol Gerrard, Šmicer, Alonso)
- Menang adu penalti 3-2 Dianggap sebagai salah satu comeback terbesar dalam sejarah sepak bola.
Era Jürgen Klopp – Kebangkitan Total (2015–2024)
Klopp datang Oktober 2015 dan membawa revolusi “Gegenpressing”:
- Liga Champions 2019 (menang 2-0 vs Tottenham)
- Juara Premier League 2019–2020 – mengakhiri penantian 30 tahun!
- Juara Piala FA & League Cup 2022 (menyapu semua piala domestik)
- Total 8 trofi besar dalam 9 tahun
Rekor dan Prestasi Utama (hingga Desember 2025)
- 19 Gelar Liga Inggris (terbanyak kedua setelah Man United 20)
- 6 Liga Champions (terbanyak klub Inggris)
- 8 FA Cup, 10 League Cup (rekor), 16 Community Shield
- 3 UEFA Cup / Europa League
Rivalitas Besar
- Merseyside Derby vs Everton (derby paling banyak dimainkan di Inggris)
- Rivalitas dengan Manchester United (North West Derby) – rivalitas terbesar di sepak bola Inggris
Liverpool bukan sekadar klub, tapi identitas kota, budaya, dan semangat “You’ll Never Walk Alone” yang menggema di Anfield hingga kini. Sampai hari ini, Liverpool tetap menjadi salah satu kekuatan terbesar sepak bola dunia. ❤️
SEJARAH TERBENTUKNYA PERSIB BANDUNG
Persib Bandung, atau secara lengkap Persatuan Sepak Bola Indonesia Bandung (Persib), merupakan salah satu klub sepak bola tertua dan paling populer di Indonesia, berbasis di Kota Bandung, Jawa Barat.
Akar Sejarah Awal
Cikal bakal Persib dapat ditelusuri hingga Bandoeng Inlandsche Voetbal Bond (BIVB), yang merupakan perserikatan sepak bola pribumi pertama di Bandung. BIVB terbentuk dari penggabungan beberapa klub lokal pada masa kolonial Belanda. Berdasarkan penelitian sejarah terbaru yang diumumkan pada 2023 oleh tim peneliti (termasuk dari Universitas Padjadjaran) dan diakui secara resmi oleh manajemen Persib, tanggal pendirian BIVB adalah 5 Januari 1919. Tanggal ini kini dijadikan sebagai hari jadi resmi Persib oleh klub melalui PT Persib Bandung Bermartabat.
Sebelumnya, banyak sumber menyebut BIVB didirikan sekitar tahun 1923, tetapi riset terkini mengoreksinya ke 1919, dengan dukungan bukti primer seperti berita surat kabar lama.
Pembentukan Nama Persib
BIVB kemudian berkembang dan digantikan oleh organisasi lain yang bernuansa nasionalis, yaitu Persatuan Sepak Bola Indonesia Bandung (PSIB) dan National Voetball Bond (NVB). Pada 14 Maret 1933, kedua organisasi ini beserta beberapa klub lain (seperti SIAP, Soenda, Singgalang, Diana, Matahari, OVU, RAN, HBOM, JOP, MALTA, dan Merapi) sepakat melebur menjadi satu perkumpulan baru bernama Persib. Tanggal ini lama menjadi hari jadi yang diperingati, tetapi kini diganti dengan 5 Januari 1919 untuk mencerminkan akar yang lebih awal.
Persib lahir di era perjuangan nasionalisme, di mana sepak bola menjadi sarana perlawanan terhadap kolonialisme Belanda. Klub-klub pribumi seperti BIVB dan Persib sering dipandang rendah oleh perkumpulan Belanda seperti Voetbal Bond Bandung & Omstreken (VBBO).
Perkembangan Selanjutnya
Persib menjadi salah satu pendiri PSSI (Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia) pada 19 April 1930 (melalui perwakilan BIVB/PSIB), dan sejak itu konsisten berprestasi di kompetisi nasional, seperti era Perserikatan, Liga Indonesia, hingga Liga 1 saat ini. Klub ini dikenal dengan julukan Maung Bandung atau Pangeran Biru, serta suporter fanatiknya yang disebut Bobotoh.
Persib telah meraih berbagai gelar juara, termasuk back-to-back Liga 1 pada musim 2023–24 dan 2024–25. Saat ini, Persib dikelola secara profesional oleh PT Persib Bandung Bermartabat sejak 2009.
Sejarah Persib mencerminkan semangat kebanggaan masyarakat Sunda dan Bandung, di mana klub ini bukan hanya tim sepak bola, tapi juga simbol identitas budaya.
Sejarah Terbentuknya Persija Jakarta
Persija Jakarta, atau secara lengkap Persatuan Sepak Bola Indonesia Jakarta, merupakan salah satu klub sepak bola tertua dan tersukses di Indonesia. Klub ini berjulukan Macan Kemayoran dan menjadi kebanggaan ibu kota.
Awal Mula Pendirian
Persija didirikan pada 28 November 1928 di era kolonial Belanda (saat Jakarta masih bernama Batavia). Pendiri utamanya adalah Soeri dan Alie (atau A. Alie Subrata), dua tokoh olahraga yang ingin membentuk klub sepak bola untuk pribumi Indonesia sebagai bentuk perlawanan terhadap dominasi kolonial dalam olahraga.
Nama awal klub adalah Voetbalbond Indonesia Jacatra (VIJ), di mana “Jacatra” merujuk pada nama lama Jakarta sebelum dijajah Belanda. VIJ dibentuk sebagai wadah bagi klub-klub lokal nasionalis, dan sepak bola saat itu tidak hanya olahraga, tapi juga simbol perjuangan bangsa.
Peran dalam Pembentukan PSSI
Pada 19 April 1930, VIJ menjadi salah satu dari tujuh klub pendiri Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), induk organisasi sepak bola nasional. VIJ langsung berprestasi dengan memenangkan kompetisi resmi PSSI pertama pada 1931.
Selama era Perserikatan (kompetisi nasional sebelum liga profesional), VIJ/Persija konsisten berada di divisi teratas dan meraih beberapa gelar juara.
Perubahan Nama menjadi Persija
Setelah Indonesia merdeka pada 1945, nama klub diubah menjadi Persija sekitar tahun 1950. Perubahan ini mencerminkan identitas nasional baru, dan klub mulai berbasis di Jakarta Pusat dengan Jusuf Jahja sebagai ketua.
Pada era 1950-an, Persija banyak diisi pemain keturunan Tionghoa, Belanda, dan Eurasia, yang juga memperkuat tim nasional Indonesia.
Perkembangan Selanjutnya
Persija menjadi klub dengan koleksi gelar terbanyak di Indonesia (11 gelar liga nasional: 9 dari era Perserikatan dan 2 dari era Liga Indonesia modern pada 2001 dan 2018). Klub ini tidak pernah terdegradasi sejak kompetisi nasional dimulai pada 1930.
Persija juga memiliki basis suporter fanatik bernama The Jakmania (didirikan 1997), yang membuatnya salah satu klub terpopuler di tanah air.
Saat ini, Persija bermarkas di Jakarta International Stadium (JIS) dan terus menjadi simbol kebanggaan Jakarta dengan rivalitas sengit seperti terhadap Persib Bandung (Derby Indonesia).
Sejarah Persija mencerminkan perjuangan bangsa Indonesia, dari era kolonial hingga modern, menjadikannya lebih dari sekadar klub sepak bola.
